Soe, – Suasana khidmat menyelimuti ruang sidang utama DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Selasa, 8 Juli 2025. Di bawah kepemimpinan Ketua DPRD, Mordekai Liu, sebuah babak penantian panjang yang menguji kesabaran dan keteguhan birokrasi selama hampir satu tahun akhirnya mencapai puncaknya. Dr. Marthen Tualaka, S.H., M.Si., Ketua DPC Partai Hanura TTS, secara resmi mengucap sumpah dan janji, mengemban amanah sebagai Anggota DPRD masa jabatan 2024-2029.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pengisian jabatan, melainkan sebuah narasi tentang duka, ketekunan, dan kelanjutan perjuangan. Marthen Tualaka mengisi kursi yang seharusnya diduduki oleh sahabat seperjuangannya, almarhum Serisman S.Y. Liufeto, calon terpilih yang berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada 14 Agustus 2024, hanya beberapa hari sebelum jadwal pelantikan serentak. Kepergiannya meninggalkan kekosongan—bukan hanya di hati keluarga dan Partai Hanura, tetapi juga satu kursi representasi rakyat di parlemen.
Proses menuju pelantikan Marthen Tualaka adalah cerminan dari kompleksitas administrasi pemerintahan. Sebelas bulan bukanlah waktu yang singkat. Ketua DPRD TTS, Mordekai Liu, dalam pidatonya secara implisit menyoroti panjangnya alur ini, sembari menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari KPU Kabupaten, Pemerintah Daerah TTS, Pemerintah Provinsi NTT, hingga Kementerian Dalam Negeri.
“Proses ini memakan waktu kurang lebih 11 bulan,” ujar Mordekai, sebuah pernyataan yang menandakan adanya maraton birokrasi yang harus dilalui untuk menerbitkan Surat Keputusan Gubernur NTT yang menjadi landasan hukum pelantikan. Bagi publik, penantian ini adalah sebuah pertanyaan kritis tentang efisiensi sistem dalam merespons kekosongan kekuasaan legislatif. Namun, bagi Marthen Tualaka, ini adalah “puncak dari pergumulan,” sebuah ujian kesabaran yang akhirnya terjawab.
Momen pelantikan ini juga menjadi panggung rekonsiliasi politik yang inspiratif. Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, yang pernah berada di seberang barisan dalam kontestasi Pilkada, memberikan sambutan yang hangat dan personal. Mengakui masa lalunya di “rumah besar Partai Hanura,” Bupati Lioe menyampaikan rasa bangganya secara pribadi atas pelantikan Marthen Tualaka.
“Kami pernah berseberangan dalam Pilkada, namun saat ini kita harus bersatu demi kemajuan Kabupaten TTS yang lebih baik,” tegas Bupati Lioe.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi politik, melainkan sebuah pesan kuat bahwa kepentingan rakyat TTS harus berdiri di atas segala perbedaan, menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari politik adalah kesejahteraan bersama.
Dengan dilantiknya Marthen Tualaka, Fraksi Hanura di DPRD TTS kini kembali utuh. Selama 11 bulan, fraksi ini berjalan dengan kekuatan yang timpang. Kini, dengan energi baru, Tualaka siap mengisi kekosongan tidak hanya secara jumlah, tetapi juga dalam kontribusi di Alat Kelengkapan Dewan (AKD).
“Sebagai anggota DPRD, saya akan terus mendorong dan mendukung kebijakan-kebijakan Pemerintah Daerah agar visi dan misi yang telah disampaikan dapat terwujud,” janji Tualaka usai pelantikan.
Pelantikan ini menjadi penutup dari sebuah episode duka dan penantian, sekaligus pembuka lembaran baru pengabdian. Di pundak Dr. Marthen Tualaka, kini tidak hanya tersemat amanah dari konstituen Partai Hanura, tetapi juga warisan semangat dari almarhum Serisman Liufeto.
Kini, tatapan seluruh masyarakat Timor Tengah Selatan tertuju pada parlemen yang telah lengkap, menantikan sinergi dan kerja nyata untuk membangun daerah yang lebih maju dan sejahtera.
Perjalanan legislatif 2024-2029 secara resmi telah dimulai secara utuh.

Tinggalkan Balasan