Tragedi di Rote Ndao: “Pratu Andi Tambaru Akhiri Hidup, Benarkah Tuntutan Belis Jadi Pemicu?

Rote Ndao, NTT—Kabar duka menyelimuti dunia militer di Nusa Tenggara Timur. Pratu Andi Tambaru, seorang anggota TNI yang bertugas sebagai Babinsa Ramil 1627-02/Pantai Baru, ditemukan meninggal dunia dengan cara tragis di sebuah pohon asam dekat Pertigaan Bandara D.C Saudale, Minggu pagi (12/1). Kejadian ini mengguncang publik dan memicu perdebatan di media sosial.

Pratu Andi diduga menghadapi tekanan berat akibat tuntutan belis yang disebut mencapai Rp250 juta. Nominal fantastis itu kabarnya diminta oleh keluarga kekasihnya, Manja Moy, seorang penyanyi ternama di NTT. Sementara itu, almarhum hanya memiliki simpanan Rp 40 juta di rekeningnya. Beban besar ini diduga menjadi pemicu langkah nekat Pratu Andi untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, narasi ini belum terkonfirmasi secara resmi. Hingga kini, keluarga Manja Moy belum memberikan pernyataan, dan pihak kepolisian bersama TNI masih melakukan investigasi untuk memastikan motif di balik tragedi ini.

Jenazah Pratu Ar ditemukan pertama kali oleh petugas bandara Velsi Boik yang kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Lobalain. Aparat gabungan dari Polsek dan Kodim 1627 Rote Ndao langsung menuju lokasi kejadian. Dari hasil olah TKP dan visum di RSUD Baa, ditemukan bekas jeratan tali di leher almarhum, dan waktu kematian diperkirakan beberapa jam sebelum jasadnya ditemukan.

Kejadian ini menjadi sorotan, bukan hanya karena tragisnya akhir hidup seorang anggota TNI, tetapi juga karena menggugah pertanyaan besar: apakah adat dan tradisi belis yang kerap menjadi kebanggaan budaya harus terus dipertahankan jika berpotensi menjadi dan finansial? beban psikologi.

Pihak berwajib mengimbau masyarakat agar tidak berspkeluasi terlalu jauh namun menunggu hasil menyedihkan resmi.Tragesi sekaligus pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan dampak sosial dari tekanan budaya dalam kehidupan sehari -hari.

Masyarakat kini menantikan jawaban: apakah benar tradisi yang harusnya menjadi lambang cinta dan kehormatan kini berubah menjadi jerat yang mematikan?

 

 

 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *