“Wali Kota Kupang Geram, Nasib Kepsek SMPN 11 di Ujung Tanduk”

Kupang,– Dugaan Kasus kekerasan terhadap sejumlah siswa di SMP Negeri 11 Kota Kupang, membuat Wali Kota Kupang dr Christian Widodo Geram.

Wali Kota bahkan tidak tanggung-tanggung akan mencopot Kepala sekolah SMPN 11 kota kupang.

​Sikap tegas Wali Kota dengan Isu pencopotan Kepala Sekolah SMPN 11 memicu perlawanan dari oknum-oknum yang merasa kekuasaan mereka terancam.

Sebuah kabar menyebutkan adanya kepala dinas yang siap menggugat Wali Kota. Namun, Christian Widodo justru balik menantang. “Kalau ada yang mau tuntut secara hukum, silahkan! Saya layani. Jangankan hukum, nyawa pun saya kasih.”tegasnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kasus ini bukan lagi sekadar sengketa internal sekolah, melainkan sebuah pertarungan nilai: antara kekuasaan yang korup melawan kebenaran dan keadilan.

Dikatakan, sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman, kini menguak borok sistemik dalam dunia pendidikan.

Reaksi keras Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, bukan sekadar respons politis, melainkan sebuah alarm moral atas kegagalan institusi pendidikan dalam melindungi anak-anak.

Insiden ini, terungkap Sabtu (30/8/2025) setelah para orang tua memberanikan diri menemui Wali Kota, menandai sebuah titik kritis: ketika pemimpin daerah mengambil alih tugas yang seharusnya diemban oleh sekolah dan aparat penegak hukum.

​Di hadapan para wartawan, Christian Widodo tidak menyembunyikan amarahnya. “Saya ini wali kota, orang tua dari seluruh warga Kota Kupang. Anak-anak ini juga anak-anak saya. Kalau mereka disakiti, saya juga sakit. Orang tua mungkin bisa memaafkan, tapi saya tidak!” serunya, menolak logika “damai” yang seringkali digunakan untuk menghentikan kasus-kasus kekerasan. Pernyataan ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah deklarasi bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab utama negara, yang tidak bisa dikompromikan dengan alasan apa pun.

​Investigasi awal menunjukkan bahwa kekerasan di SMPN 11 sudah tidak menjadi rahasia umum. Laporan para korban—Ivan dipukul, Janet dimaki dengan kata-kata keji, Chika dan Maya dipukul di kepala, Justin ditendang—menunjukkan pola kekerasan fisik dan verbal yang terstruktur dan terbiarkan. Ironisnya, bahkan seorang guru bernama Intan Moni disebut pernah menjadi korban pemukulan di depan murid-muridnya, namun memilih bungkam. Ini mengindikasikan bahwa ketakutan telah mengakar kuat, melumpuhkan keberanian untuk melawan.

​Wali Kota juga dengan tegas memperingatkan para guru yang memilih membela Kepala Sekolah daripada kebenaran. “Saya catat nama-nama guru yang membela kepsek. Jangan pikir aman kalau membela yang salah. Justru yang membela kebenaran itu yang aman,” tegasnya, menggarisbawahi pentingnya integritas bagi seorang pendidik.

​Pesan Moral: Pendidikan Adalah Harga Mati

​Keputusan Christian Widodo untuk mencopot Kepala Sekolah dan memproses hukum para pelaku adalah langkah yang sangat tepat. Ia menegaskan, “Artinya kepsek akan dicopot, saya pasti proses. Bahkan kalau bisa kita beri tindak disiplin ASN sesuai aturan yang berlaku, dan proses hukum tetap berjalan.”

​Kasus ini menjadi cermin bagi seluruh bangsa. Bahwa pendidikan bukanlah sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter dan moral. Ketika kekerasan merajalela dan kebenaran dibungkam, kita telah gagal sebagai sebuah bangsa. Sikap tegas Wali Kota Kupang ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.(tim).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *