Yusinta Nenobahan, Perempuan Biasa dengan Jiwa Luar Biasa: “Membantu Tak Harus Jadi Pejabat”

Kupang,-Di tengah hiruk-pikuk politik yang sering kali membutakan nurani, ada satu sosok yang hadir seperti angin sejuk di tengah kemarau panjang kepedulian sosial. Ia bukan pejabat, bukan anggota dewan, dan bukan pula tokoh politik yang sedang mencari panggung. Namanya Yusinta Ningsih Nenobahan, pemilik Yayasan YNS (Yusinta Ningsih Sejahtera), seorang perempuan yang memilih untuk berbagi bukan karena kekuasaan, tetapi karena kemanusiaan.

Beberapa hari lalu, unggahan Yusinta di akun Facebook pribadinya menggugah ribuan hati. Banyak warganet yang bertanya-tanya, mengira bahwa dirinya adalah seorang pejabat atau anggota dewan karena begitu sering terlihat turun langsung membantu masyarakat. Namun, dengan tegas dan penuh ketulusan, ia menjawab,

“Saya bukan pejabat ataupun anggota dewan. Saya hanya masyarakat biasa, sama seperti Basodara yang lain. Kebetulan saya sedang di NTT, jadi sambil mengisi waktu, saya buat kegiatan sosial untuk membantu Basodara yang membutuhkan. Kan membantu orang yang membutuhkan tidak harus jadi pejabat dulu.”

Kata-kata ini sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Di saat banyak orang menunggu jabatan untuk bisa berbagi, Yusinta justru bergerak tanpa menunggu panggung atau sorotan. Dalam dunia yang sering kali mengukur kepedulian dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, Yusinta hadir untuk membuktikan bahwa empati dan aksi nyata jauh lebih berharga dari sekadar gelar dan kedudukan.

Ketika Kepedulian Bukan Sekadar Janji, Tapi Bukti

Dalam banyak kesempatan, kita sering melihat pejabat atau politisi turun ke masyarakat dengan seremonial yang penuh kemewahan. Kamera siap merekam setiap gerakan, mikrofon siap mengabadikan setiap janji, tetapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar kembali setelah sorotan meredup?

Yusinta berbeda. Ia tidak membawa janji, tetapi aksi. Ia tidak menunggu momen, tetapi menciptakan gerakan. Yayasan YNS yang ia pimpin bukan sekadar simbol, melainkan perpanjangan tangannya untuk menjangkau mereka yang terpinggirkan. Tanpa protokol resmi, tanpa agenda politik, ia hadir sebagai sahabat bagi mereka yang membutuhkan.

Setiap langkahnya mencerminkan satu prinsip dasar yang sering kali terlupakan: bahwa membantu sesama adalah panggilan nurani, bukan proyek pencitraan. Ia tidak butuh jabatan untuk membuat perubahan. Ia tidak perlu berada di gedung parlemen untuk mendengar jeritan rakyat. Ia cukup berada di tengah-tengah mereka, mendengar dengan hati, dan bertindak dengan tulus.

Fenomena Yusinta Nenobahan bukan sekadar kisah inspiratif, tetapi juga tamparan keras bagi banyak pihak. Hari ini, banyak orang yang memilih untuk diam, menunggu kesempatan, atau bahkan menutup mata terhadap penderitaan di sekitarnya dengan alasan “tidak punya wewenang” atau “bukan tugas saya.”

Tetapi Yusinta menunjukkan bahwa kepedulian tidak membutuhkan mandat resmi. Ia membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan. Dan yang lebih menggelitik adalah bagaimana kehadirannya justru menyingkap realitas pahit: bahwa banyak pejabat yang memiliki kekuasaan justru tidak berbuat apa-apa.

Apakah kepedulian harus menunggu SK? Apakah aksi sosial harus menunggu pemilu? Apakah seseorang harus menjadi pejabat terlebih dahulu untuk bisa membantu sesama? Jika seorang perempuan biasa seperti Yusinta bisa bergerak dan mengulurkan tangan, lalu mengapa mereka yang memiliki kekuasaan justru lebih banyak duduk diam?

Apa yang dilakukan Yusinta bukan hanya soal berbagi, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki peran dalam menciptakan perubahan. Ia adalah bukti bahwa membantu bukan hanya tugas pejabat, tetapi kewajiban setiap manusia yang memiliki hati dan empati.

Dunia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga sosok-sosok seperti Yusinta—yang diam-diam bekerja tanpa perlu gembar-gembor. Dunia tidak hanya butuh kebijakan di atas kertas, tetapi aksi nyata yang menyentuh kehidupan orang banyak.

Kini, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa Yusinta, tetapi tentang apa yang bisa kita lakukan setelah melihat apa yang telah ia lakukan. Jika seorang “masyarakat biasa” seperti Yusinta bisa berbuat banyak, lalu apa alasan kita untuk diam?(Arnold).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *