Jeritan Keadilan dari TTU:”Petronela Tilis Mencari Cahaya di Tengah Gelap!”

TTU,– Di sebuah desa kecil di Timor Tengah Utara, di antara deretan pohon mahoni yang menjulang tinggi, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang mengharukan. Petronela Tilis, seorang warga biasa, kini tengah berjuang sendirian melawan ketidakadilan, mencari keadilan atas pengrusakan pagar miliknya. Kisahnya, yang berawal dari laporan polisi (LP/43/XII/2024/SPKT/Polsek Noemuti/Polres TTU/Polda NTT, tanggal 24 Desember 2024), telah menjadi simbol betapa rapuhnya keadilan bagi mereka yang tak memiliki kekuasaan.

Pagar sepanjang 27 meter yang melindungi tanaman milik Petronela, dipasang atas himbauan Kepala Desa. Namun, pagar tersebut dirusak. Laporan polisi yang dibuatnya, malah seakan diabaikan. Lambannya proses penyelidikan, yang ditangani Aipda Agustinus Bria Seran dan Kapolsek Noemuti, Ipda Sumaryono Heru Pandoko, telah memicu kecurigaan akan adanya ketidakberesan.

Pengakuan bebas terlapor, Blasius Lopis, yang menyebut tindakannya dipicu oleh keberadaan dua pohon mahoni dan satu pohon jati, dianggap sebagai upaya mengaburkan fakta. Menurut Gabriel Suku Kota, S.H., M.Si., Advokat dan petinggi Partai Demokrat NTT, pohon-pohon tersebut berada dalam satu garis lurus dengan tanaman milik Petronela, membuat pengakuan terlapor tersebut tidak masuk akal.

“Ini bukan hanya tentang dua pohon mahoni dan satu pohon jati,” tegas Gabriel. “Ini tentang keadilan yang tergadaikan, tentang hukum yang seolah buta dan tuli terhadap jeritan seorang warga biasa.”

Petronela, bersama anaknya Elfrida, tetap teguh memperjuangkan haknya. Mereka menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pagar tersebut dipasang sesuai aturan dan batas tanah yang jelas. Mereka tak akan menyerah, walau harus berjuang sendirian melawan sistem yang terasa begitu berat.

Kisah Petronela Tilis bukanlah sekadar kasus pengrusakan. Ini adalah cerminan perjuangan rakyat kecil untuk mendapatkan keadilan di tengah sistem yang kerap kali tak berpihak. Ini adalah kisah inspiratif tentang kegigihan seorang ibu dalam memperjuangkan haknya, dan sekaligus menjadi tamparan keras bagi penegak hukum agar lebih profesional dan berpihak pada kebenaran. Kisah ini menggugah kita semua untuk turut serta mengawal tegaknya keadilan di negeri ini.(ft/tim).

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *