Skandal Dana & Konflik Internal Mengguncang Taekwondo Flores Timur, Ketua Pengprov NTT Buka Suara: “Akan Ada Kejutan Besar!”

Kupang, – Polemik internal yang membelit organisasi Taekwondo Indonesia (TI) di Flores Timur kini memasuki babak panas dan beraroma serius. Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) TI NTT, Fransisco Bernando Bessi, akhirnya angkat bicara, membantah berbagai tudingan yang beredar sekaligus membuka fakta baru yang memicu perhatian publik.

Dalam pernyataannya, Fransisco menilai narasi yang berkembang justru berbalik menyerang pihak yang melontarkan tuduhan.

Ia menyebut situasi ini sebagai fenomena “pukul dulang di air, kena muka sendiri”, sebuah sindiran keras terhadap pihak yang dianggap membangun opini tanpa dasar kuat.

“Pemberitaan yang dibangun ini justru membuka fakta sebenarnya. Jangan sampai menyerang, tapi malah membongkar diri sendiri,” tegasnya, Selasa (21/04/2026).

Sorotan utama dalam konflik ini mengarah pada pengelolaan dana organisasi tahun 2023 yang sempat dipersoalkan.

Fransisco menegaskan bahwa penggunaan dana tersebut tidak dilakukan secara sepihak.

Ia menyebut ada komunikasi dan keterlibatan sejumlah pihak, termasuk keluarga Erlin Nuga.

“Tidak benar kalau dibilang hanya satu pihak yang tahu. Semua dilakukan dengan komunikasi dan saling mengetahui,” ujarnya.

Lebih jauh, ia juga menjelaskan soal penggunaan dana perjalanan organisasi ke Jakarta yang kini dipertanyakan.

Fransisco mengklaim tidak hanya menggunakan dana organisasi, tetapi juga mengeluarkan uang pribadi untuk menutup berbagai kebutuhan, mulai dari penginapan, konsumsi, hingga biaya ujian kenaikan tingkat (UKT) para atlet.

“Saya keluar uang pribadi dulu sebelum menginap di hotel. Bahkan kebutuhan anak-anak untuk UKT juga saya tanggung,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa sebagian dana yang digunakan telah dikembalikan, menegaskan tidak ada niat untuk menyalahgunakan anggaran organisasi.

Tak hanya soal dana, konflik ini juga merembet ke persoalan disiplin internal.

Fransisco mengungkapkan bahwa dirinya telah berupaya meminta pertanggungjawaban melalui forum resmi, namun pihak yang dipanggil tidak pernah hadir.

“Saya sudah undang secara resmi, bahkan dalam forum terbuka di Kupang. Tapi tidak pernah datang. Itu sebabnya saya ambil langkah tegas dengan pemberhentian,” tegasnya.

Di balik polemik ini, Fransisco menilai ada motif lain yang lebih dalam, yakni kekecewaan pasca kontestasi internal organisasi. Ia menyebut konflik ini bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan dipicu oleh dinamika kekuasaan.

“Ini orang-orang yang tidak siap kalah. Kekecewaan itu kemudian dibawa ke ruang publik dengan cara-cara seperti ini,” katanya.

Pernyataan paling tegas di akhir klarifikasinya. Fransisco memberi sinyal bahwa konflik ini belum selesai dan justru akan memasuki fase yang lebih besar.

“Ingat, akan ada kejutan besar dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *