Kupang, – Ketua Panitia Paskah Stasi Yesus Maria Yoseph (YMY), Yoseph Liko Hala, menegaskan bahwa esensi dari perayaan kebangkitan Kristus tahun ini adalah sebuah transformasi batin bagi seluruh umat. Menurutnya, Paskah harus menjadi jembatan bagi setiap pribadi untuk beralih dari kegelapan menuju terang, serta meninggalkan rasa kesepian demi menjemput keceriaan hidup yang baru dalam penyertaan Tuhan.
”Malam ini kita merayakan pesta kebangkitan Yesus. Ini adalah momen yang membawa kita beralih dari gelap ke terang, dari rasa kesepian menuju keceriaan dalam hidup kita,” ujar Yoseph saat menyampaikan sambutannya di tengah kemeriahan suasana liturgi. Atas nama seluruh jajaran kepanitiaan, ia juga menyampaikan ucapan selamat Paskah kepada seluruh umat yang hadir dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan kepanitiaan ini dimulai sejak awal Januari lalu di Wilayah VII, saat Yoseph dipercayakan mengemban mandat sebagai ketua. Meski pada awalnya muncul kekhawatiran terkait kebutuhan anggaran yang besar sementara kondisi wilayah tergolong kecil, namun tekad bulat umat terbukti mampu mematahkan keraguan tersebut. Semangat gotong royong ini membuahkan hasil luar biasa, di mana dana yang semula hanya terkumpul 22 juta rupiah, melonjak drastis hingga mencapai angka 62 juta rupiah.
Keajaiban solidaritas ini juga dirasakan panitia saat melakukan perjalanan penggalangan dukungan. Yoseph mengisahkan bagaimana mereka disambut dengan senyum, tawa, dan rangkulan hangat dari masyarakat, termasuk mereka yang tidak beragama Katolik. Dukungan tulus lintas iman ini menjadi bagian dari rasa terima kasih mendalam panitia atas kerukunan dan sumbangsih yang diberikan oleh sesama warga tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Ketua Stasi YMY, Zakarias Moruk, dalam kesempatan yang sama turut memberikan apresiasi tinggi atas seluruh rangkaian perayaan yang telah dipersiapkan sejak Rabu Abu. Ia memuji kerja keras panitia serta sinergi dari berbagai pihak, termasuk dukungan keamanan dari Polresta Kupang. Selain itu, Zakarias menyampaikan terima kasih atas kontribusi nyata dari tokoh masyarakat seperti Anggota DPRD NTT Fernando Soares yang menyumbangkan granit, serta Perhimpunan Polisi Katolik yang mendonasikan 1.000 sak semen untuk pembangunan gedung gereja yang telah digunakan selama tiga tahun terakhir.
Di sisi lain, perayaan ini juga menjadi ajang refleksi spiritual melalui homili mendalam dari RD. Yonas Kamlasi. Dalam pesannya, RD. Yonas menyentil fenomena modern seperti “Budaya Fomo” dan haus akan validitas di dunia maya yang ia ibaratkan sebagai “kuburan” masa kini. Ia mengajak umat untuk berhenti mengejar kesenangan sesaat ala “Negeri Konoha” dan mulai membangun interaksi nyata di dalam keluarga, sehingga Paskah benar-benar menjadi virus kebaikan yang nyata dan bukan sekadar pencitraan di media sosial.

Tinggalkan Balasan