“Ijinkan Aku Jadi Cahaya, Meski Terkadang Redup”

Oleh : Peter Salem Petani Milleneal Asal TTS

Kupang,-Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang penuh kompetisi, ada kalanya manusia merasa kecil, lelah, atau tak berdaya. Dalam momen-momen itu, mereka seringkali merasa bahwa cahayanya meredup, bahwa kontribusinya tak lagi bermakna. Namun, apakah cahaya harus selalu terang untuk dianggap berarti?

Kita hidup di dunia yang seringkali mengukur keberhasilan dengan seberapa besar dampak yang bisa kita berikan, seberapa terang kita bersinar di mata orang lain. Narasi tentang “kesempurnaan” ini mengabaikan kenyataan bahwa bahkan lilin kecil pun memiliki perannya—menjadi penuntun di lorong gelap, menjadi pemanas dalam dingin, menjadi harapan dalam putus asa.

Mengapa kita takut untuk menjadi cahaya kecil?

Di dalam setiap perjalanan hidup, redup adalah bagian dari siklus. Redup bukanlah akhir, melainkan jeda untuk memulihkan diri. Redup adalah saat ketika kita berhenti, mengumpulkan kekuatan, dan menata ulang arah. Mereka yang memahami nilai dari cahaya kecil ini tahu bahwa meskipun tak mampu menerangi seluruh dunia, ia bisa menjadi penerang bagi satu jiwa—dan seringkali, itu sudah cukup.

Kritiknya, masyarakat modern sering menuntut kesempurnaan. Kita dihantui oleh bayangan harus “selalu menjadi yang terbaik.” Dalam media sosial, dunia yang penuh dengan highlight kehidupan orang lain, cahaya yang redup seringkali dianggap gagal. Namun, apakah tidak ada ruang untuk keberadaan yang sederhana, yang bermakna tanpa perlu berlebihan?

Di sinilah kita perlu menantang narasi tersebut. Kita harus sadar bahwa keberadaan tidak melulu soal besar atau kecilnya dampak, melainkan soal kehadiran itu sendiri. Cahaya, betapapun redup, tetaplah cahaya. Dan yang terpenting, kita adalah sumbernya.

Ada kisah seorang guru tua yang pernah mengatakan, “Lilin kecil di sebuah ruangan gelap adalah harapan pertama untuk menemukan pintu keluar.” Kata-katanya sederhana, namun dalam. Dunia yang gelap tidak butuh terang-benderang untuk mulai berubah. Kadang, langkah kecil, perhatian kecil, atau pengorbanan kecil adalah awal dari segalanya.

Namun, masyarakat seringkali gagal melihat makna dari hal-hal kecil. Di tengah obsesi terhadap hal-hal besar, banyak yang lupa bahwa perubahan besar lahir dari serpihan kecil yang dikumpulkan dengan konsistensi.

Tidak mudah bertahan sebagai cahaya kecil di tengah dunia yang kerap mengabaikan nilai redup. Dunia ini sinis, mengagungkan mereka yang besar dan terang, sementara yang kecil sering dianggap remeh. Tetapi justru di situlah tantangannya. Kita tak perlu berkompetisi menjadi bintang terang di langit yang sudah penuh. Kita cukup menjadi pelita di sudut gelap yang tak pernah tersentuh.

Jadi, ijinkan aku menjadi cahaya. Bukan untuk bersaing dengan mentari atau bulan. Bukan untuk menaklukkan dunia. Namun, untuk menjadi alasan seseorang tetap percaya bahwa harapan itu ada, bahwa di tengah gelap, masih ada secercah terang, meskipun kecil.

Menjadi cahaya, bahkan ketika redup, adalah pilihan yang berani di dunia yang terus menuntut lebih. Kita tak perlu takut meredup, karena redup adalah bagian dari perjalanan. Yang penting bukan seberapa terang kita bersinar, tetapi bagaimana kita tetap bertahan dan memberi makna, betapapun kecilnya. Sebab, terang atau redup, cahaya tetaplah cahaya. Dan bagi dunia yang sedang gelap, secercah sinar sudah lebih dari cukup.( ***).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *