Kupang, — Dalam upaya meningkatkan efektivitas penanganan bencana longsor di ruas jalan nasional, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah 2 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil langkah strategis dengan melakukan peninjauan ulang terhadap desain konstruksi pada sejumlah paket pekerjaan. Salah satu fokus utama berada pada ruas Henes–Motamasin dan Batas Kota Soe–Kefamenanu–Napan.
Langkah review desain ini merupakan bagian dari adaptasi teknis yang didasarkan pada hasil kajian lapangan yang dilakukan saat pelaksanaan mutual check (MC-0). Perubahan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur jalan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan geografis NTT yang kompleks dan rawan longsor.
Kasatker PJN Wilayah 2 Provinsi NTT, Fahrudin, menjelaskan bahwa sejumlah titik longsor yang awalnya dirancang menggunakan konstruksi bronjong, kini diusulkan untuk beralih ke metode konstruksi bore pile yang dinilai lebih kokoh dan sesuai dengan karakteristik kontur tanah di lokasi.
“Kami tetap berkomitmen untuk menyelesaikan pekerjaan dengan anggaran yang sudah dikontrakkan. Perubahan desain ini tidak akan menambah addendum biaya, namun diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap keselamatan dan daya tahan jalan,” ungkap Fahrudin, Senin (23/6/2025).
Secara teknis, penanganan longsoran di ruas Henes–Motamasin akan mendapatkan perlakuan khusus. Selain penguatan menggunakan bronjong, penambahan sistem saluran drainase menjadi prioritas. Saluran ini dirancang untuk mengarahkan aliran air secara efisien guna mencegah erosi tanah dan potensi longsor lanjutan, mengingat lokasi ini memiliki kemiringan yang sangat curam.
Fahrudin juga menyoroti bahwa saluran eksisting yang menggunakan pasangan batu akan ditingkatkan kualitasnya dengan metode lain seperti precast concrete, pengecoran di tempat (cast in situ), atau kombinasi keduanya, sesuai dengan hasil analisis teknis. Perkuatan dinding penahan tebing (retaining wall) atau DPT juga akan dilakukan sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
“Kami ingin memastikan bahwa infrastruktur yang dibangun tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga memiliki umur teknis yang panjang. Setiap desain harus menjawab tantangan lapangan secara langsung, bukan sekadar mengikuti standar baku,” tegasnya.
Langkah review desain ini mencerminkan perubahan paradigma dalam penanganan infrastruktur jalan—dari pendekatan reaktif menuju pendekatan proaktif dan adaptif. Satker PJN Wilayah 2 berharap, upaya ini tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan berkelanjutan yang lebih tangguh dan responsif terhadap dinamika alam.
Dengan pelaksanaan yang tetap mengedepankan efisiensi anggaran, inovasi desain, dan ketepatan teknis, Satker PJN Wilayah 2 terus menunjukkan komitmen dalam mendukung konektivitas antarwilayah serta mendorong kemajuan pembangunan di Provinsi NTT.( Arnold).

Tinggalkan Balasan