“Beny Nahak dan Enam Langkah Strategis: Ayo Bangun NTT Menuju Sejahtera”

Kupang, -Dalam seminggu sejak resmi dilantik menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Benyamin Nahak langsung menunjukkan orientasi kerja berbasis fakta, aksi nyata, dan respons cepat terhadap arahan pimpinan daerah. Bukan sekadar pengganti jabatan, ia adalah sosok teknokrat yang sudah lama berada di lapangan dan memahami persoalan mendasar di NTT dengan mata kepala sendiri.

Sebelum resmi menjabat sebagai kadis, Beny telah mengemban tugas sebagai Pelaksana Tugas sejak awal pemerintahan Gubernur Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma. Selama hampir seratus hari pertama pemerintahan berjalan, ia mengikuti tour lapangan bersama Gubernur  dan Wakil Gubernur.dimana ke berbagai kabupaten/kota di NTT. Dari kunjungan langsung itu, terbentuk pemahaman yang tajam bahwa penyelesaian masalah pembangunan infrastruktur tidak bisa dilepaskan dari akar persoalan besar: stunting, kemiskinan, dan kemiskinan ekstrem.

“Setiap jengkal jalan yang rusak, setiap desa yang kekurangan air bersih, setiap jaringan irigasi yang tak berfungsi optimal—itu semua berkontribusi langsung terhadap rendahnya kualitas hidup masyarakat,” ujar Benyamin saat Coffee Morning bersama awak media pada Jumat, 23 Mei 2025, di Kantor Dinas PUPR.

Berdasarkan hasil analisis APKL dan USG serta verifikasi lapangan, Dinas PUPR menemukan sejumlah persoalan krusial yang menjadi kendala utama dalam pembangunan NTT:

Jaringan irigasi yang belum berfungsi optimal, menyebabkan ketergantungan petani terhadap hujan yang tidak menentu.

Minimnya ketersediaan air baku dan terbatasnya sumber air minum, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari akses sungai atau mata air.

Rendahnya angka layanan air minum, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Kondisi jalan yang belum mantap, menyulitkan distribusi logistik, pelayanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Keterbatasan akses terhadap perumahan layak huni, yang berdampak pada kualitas hidup keluarga miskin.

 

Menurut Beny, seluruh elemen tersebut berkaitan langsung dengan tiga target besar pembangunan sosial di NTT: penurunan angka stunting, pengentasan kemiskinan, dan eliminasi kemiskinan ekstrem.

“Tidak ada penurunan stunting tanpa ketahanan air. Tidak ada pengurangan kemiskinan tanpa infrastruktur jalan yang menghubungkan pusat produksi ke pasar. Dan tidak ada kehidupan sehat tanpa akses air minum dan sanitasi yang layak,” tegas Beny.

Komitmen ini, lanjutnya, bukan hanya teori. Dinas PUPR sudah menyusun rencana teknis berbasis data real-time dan kebutuhan spesifik setiap wilayah. Fokus Dinas PUPR di bawah kepemimpinan Benyamin Nahak adalah memastikan setiap program pembangunan menyentuh langsung aspek Sumber Daya Air (SDA), irigasi, akses air bersih, perumahan rakyat, serta memperluas daya dorong terhadap kecipataan karyaan—yakni partisipasi masyarakat lokal dalam pekerjaan konstruksi dan pemeliharaan.

Dinas PUPR kini diarahkan menjadi ujung tombak implementasi teknis dari visi besar Gubernur dan Wakil Gubernur: membangun NTT dari desa, dari masyarakat bawah, dengan memastikan bahwa setiap rupiah anggaran yang digelontorkan berdampak pada peningkatan kualitas hidup warga.

Tidak ada waktu untuk lamban. Dengan pendekatan kerja yang cepat, terukur, dan kolaboratif, Benyamin Nahak menyatukan data, pengalaman lapangan, dan semangat perubahan untuk menjadikan infrastruktur sebagai alat pemutus rantai kemiskinan di NTT.

“Jika kita gagal menjamin air dan jalan, kita gagal menurunkan stunting. Infrastruktur bukan hanya bangunan fisik, tapi jembatan menuju kesejahteraan,” pungkasnya( Arnold).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *