Taiftob, — Di Desa Taiftob, Kecamatan Molo Utara, Timor Tengah Selatan, Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena menemukan potret pembangunan desa yang bergerak dengan caranya sendiri.
Dalam kunjungannya pada 5 Januari 2026, Melki menyaksikan langsung bagaimana Komunitas Lakoat Kujawas selama 10 tahun konsisten membangun desa melalui budaya, pangan lokal, dan kepemimpinan anak muda.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial.Di tengah aktivitas komunitas, Melki melihat bagaimana pembangunan bisa tumbuh tanpa menanggalkan identitas.
Dari seni, literasi, hingga pengolahan pangan lokal, Lakoat Kujawas menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi fondasi kewirausahaan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Komunitas yang dipimpin Dicky Senda itu kini membina sekitar 150 anak aktif, serta telah melahirkan lebih dari 1.000 alumni yang tersebar di berbagai daerah.
Mereka tumbuh sebagai generasi yang percaya diri, berakar pada budaya sendiri, dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman.
Bagi Melki Laka Lena, pengalaman di Taiftob mempertegas satu prinsip penting pembangunan NTT: kemajuan tidak harus mengorbankan jati diri.
Justru dari budaya dan pengetahuan lokal, desa-desa di NTT dapat membangun kemandirian ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi NTT, kata Melki, akan belajar dari praktik baik Lakoat Kujawas dan membuka ruang kolaborasi agar model serupa dapat diterapkan di desa-desa lain.
Pendekatan pembangunan ke depan akan lebih membumi—turun langsung ke kampung-kampung, terutama desa dengan kondisi paling berat, serta bekerja bersama komunitas lokal, tokoh adat, dan tokoh agama.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri,” menjadi pesan yang mengemuka dari kunjungan tersebut. Desa dipandang bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang memiliki pengetahuan, nilai, dan potensi sendiri.
Dari Taiftob, Melki menegaskan keyakinannya bahwa tidak ada desa yang benar-benar miskin. Yang ada adalah potensi yang belum digali dan diperkuat. Jika negara hadir untuk mendengar dan belajar, maka dari desa akan lahir masa depan NTT yang berdaulat, berbudaya, dan sejahtera.
Kunjungan 5 Januari 2026 itu menandai satu arah baru: pembangunan NTT yang berangkat dari desa, bertumbuh bersama komunitas, dan berpijak kuat pada identitas lokal.

Tinggalkan Balasan