Kupang, — Pemerintah Kota Kupang mempertegas langkah percepatan penurunan stunting dengan menempatkan pencegahan sebagai strategi utama. Penegasan ini disampaikan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat membuka Rapat Koordinasi Penguatan Pelaksanaan Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting yang digelar di Hotel Kristal, Senin, 1 Desember 2025.
Dalam arahannya, Wali Kota menekankan perlunya kesadaran kolektif untuk meminimalkan risiko stunting sejak masa kehamilan.
“Pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan. Biayanya lebih murah, hasilnya lebih pasti. Nutrisi ibu hamil harus diperhatikan, dan edukasi sejak dini kepada keluarga harus dilakukan secara masif,” tegasnya.
Ia juga menyoroti beban ekonomi, tingginya angka kehamilan tidak direncanakan, serta dampak kehamilan di luar nikah yang disebutnya berpengaruh besar terhadap tingginya angka stunting.
P2KB: Stunting Bukan Hanya Soal Gizi, Tapi Soal Perilaku dan Akses Layanan
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kota Kupang, drg. Fransisca J. H. Ikasasi, menambahkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi gizi. Menurutnya, stunting adalah persoalan multidimensi yang mencakup perilaku, pengetahuan, dan ketersediaan layanan dasar.
“Stunting bukan semata-mata kurang makan. Ini tentang pengetahuan keluarga, pola asuh, akses air bersih, sanitasi, dan kesehatan reproduksi. Semua itu harus berjalan bersamaan,” ujar Ikasasi.
Ia menegaskan bahwa pendekatan konvergensi—yang menghubungkan layanan kesehatan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan—adalah kunci agar upaya pencegahan berjalan efektif.
“Setiap sektor punya peran. Tidak bisa hanya P2KB atau Dinas Kesehatan. Mulai dari kader posyandu, guru, tokoh agama, sampai pihak kampus harus terlibat. Ini kerja besar dan harus dikerjakan bersama,” tegasnya.
Kupang Genjot Edukasi Remaja dan Calon Pengantin
Ikasasi menyampaikan bahwa P2KB kini memperkuat edukasi kesehatan reproduksi di sekolah dan kampus untuk mencegah kehamilan berisiko.
“Edukasi harus diberikan sejak remaja. Perencanaan keluarga itu dimulai bahkan sebelum menikah. Calon pengantin harus paham risiko kehamilan dini, anemia, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen P2KB untuk memperluas program pembinaan keluarga, termasuk pendampingan ibu hamil, pembagian tablet tambah darah, serta peningkatan peran Tim Percepatan Penurunan Stunting di tingkat kelurahan.
Menuju Kota Kupang yang Lebih Sehat
Dengan angka stunting di Kota Kupang berada pada level 16,3 persen, pemerintah daerah menilai momentum kolaborasi ini penting untuk memastikan intervensi berjalan tepat sasaran.
Wali Kota menutup sambutannya dengan optimisme:
“Dalam persatuan, kita menemukan kemenangan. Kupang akan menjadi kota yang lebih sehat dan lebih maju.”

Tinggalkan Balasan