Kupang,– Tekanan ekonomi menghantam kantong masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) tepat di tengah momentum hari besar keagamaan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT melaporkan kenaikan harga barang dan jasa yang signifikan sepanjang Maret 2026, dipicu oleh kombinasi lonjakan permintaan transportasi udara dan kelangkaan pasokan pangan akibat cuaca buruk.
Dalam konferensi pers yang digelar di Aula BPS NTT, Rabu (1/4/2026), Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, mengungkapkan bahwa NTT mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25%. Meski angka ini melambat dibanding Februari (0,45%), inflasi tahunan (year-on-year) kini telah menyentuh angka 2,4%.
Tiket Pesawat dan Cabai: “Duo” Pemacu Inflasi
Fenomena unik terjadi pada Maret ini. Libur panjang Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan persiapan Idulfitri membuat tarif angkutan udara meroket.
”Kenaikan tarif angkutan udara dipicu tingginya permintaan selama periode libur panjang. Ini memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi transportasi sebesar 0,41%,” ujar Matamira.
Tak hanya di udara, krisis juga terasa di dapur warga. Penurunan produksi akibat musim hujan membuat harga cabai rawit, cabai merah, dan ikan tembang melonjak. Ironisnya, di tengah keterbatasan pangan, warga juga dihantam kelangkaan LPG yang menyebabkan harga bahan bakar rumah tangga ikut merangkak naik.
Pemetaan Wilayah: TTS Tertinggi, Maumere Terendah
Data BPS menunjukkan bahwa inflasi tidak tersebar merata, namun mencakup seluruh wilayah IHK di NTT:
Inflasi Tertinggi: Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebesar 0,38%.
Inflasi Terendah: Maumere sebesar 0,02%.
Ibu Kota Provinsi: Kota Kupang mencatat inflasi tahunan yang cukup mengkhawatirkan sebesar 2,87%, hanya selisih tipis dari pemegang rekor inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,88%.
Di tengah badai kenaikan harga, sektor pendidikan justru memberikan sedikit napas lega. BPS mencatat adanya deflasi tahunan pada kelompok pendidikan sebesar -0,09%. Hal ini menunjukkan adanya stabilitas biaya pada sektor edukasi di NTT di tengah gempuran harga pangan.
Secara kumulatif, inflasi sepanjang Januari hingga Maret 2026 telah mencapai 1,35%. Jika tren ini tidak segera dimitigasi oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID)—terutama terkait rantai pasok LPG dan stabilisasi harga pangan pasca-hujan—maka daya beli masyarakat NTT terancam kian tergerus hingga puncaknya pada Lebaran mendatang.
Pemerintah daerah kini ditantang untuk memastikan distribusi logistik tetap berjalan meski cuaca buruk menghantui perairan dan daratan Flobamora.

Tinggalkan Balasan