Naimata Bikin Sejarah! Festival Kelurahan Pertama di Kupang Satukan Etnis, Dari Fashion Show,Pasar Murah hingga Pengobatan Gratis

Kupang ,— Kelurahan Naimata mencetak sejarah baru di Kota Kupang. Untuk pertama kalinya, sebuah kelurahan sukses menggelar festival budaya berskala besar yang tidak hanya meriah, tetapi juga menyatukan puluhan etnis dalam satu panggung kebersamaan.

Mewakili Wali Kota Kupang, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Ignasius Lega, menyebut langkah Kelurahan Naimata sebagai pionir yang patut dicontoh.

Ia menegaskan, Naimata menjadi kelurahan pertama yang menghadirkan event mandiri dan langsung menempati “nomor satu” dalam inovasi kegiatan berbasis masyarakat.

“Ini luar biasa. Harapan kami, kelurahan lain ikut bergerak. Mencintai budaya lokal harus dimulai dari lingkungan terkecil,” ujarnya.

Menurut Ignasius, Pemerintah Kota Kupang tidak tinggal diam. Selama lima tahun terakhir, dukungan terhadap kegiatan masyarakat terus diperkuat, termasuk melalui pengalokasian anggaran untuk event-event kelurahan yang berdampak langsung pada warga.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga nilai kebersamaan dan kebersihan lingkungan. “Warga Naimata telah menunjukkan bahwa keharmonisan dan kepedulian terhadap kebersihan bisa berjalan seiring dengan pelestarian budaya,” tambahnya.

Festival ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-30 Otonomi Daerah Kota Kupang sekaligus menyongsong usia Kota Kupang yang ke-140 tahun.

Rangkaian acara mencapai puncaknya pada karnaval budaya spektakuler yang melibatkan sekitar 40 etnis dari berbagai paguyuban di Kota Kupang. Karnaval tersebut dipusatkan di Bundaran Tirosa pada Jumat,25 April 2026.

Ignasius pun mengajak masyarakat untuk hadir dan menyaksikan langsung kemeriahan tersebut. “Mari datang dan jadi bagian dari perayaan budaya ini. Sekaligus menjadi momentum pembukaan resmi kegiatan,” ajaknya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Yusuf Taklal, menegaskan bahwa festival ini lahir dari semangat masyarakat Naimata untuk bangkit dan berkreasi.

Ia menyebut kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi ruang ekspresi bagi pecinta seni budaya dan ajang pencarian bakat generasi muda.

“Festival budaya ini sudah menjadi agenda tahunan kelurahan. Tujuannya jelas, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan memperkuat kebanggaan terhadap keragaman budaya, khususnya di NTT,” jelas Yusuf.

Beragam kegiatan digelar dalam festival ini, mulai dari lomba fashion show yang diikuti tujuh tim, pertunjukan 30 tarian tradisional, hingga partisipasi 10 tim lansia yang turut memeriahkan acara.

Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan layanan sosial seperti pengobatan gratis dan pasar murah untuk masyarakat.

Yang menarik, pelestarian budaya juga ditanamkan sejak dini. Program penguatan budaya lokal sudah mulai diperkenalkan dari tingkat SD hingga SMP di wilayah tersebut.

Festival Naimata bukan hanya perayaan, tetapi simbol kebangkitan identitas lokal di tengah arus modernisasi. Dari sebuah kelurahan di pinggiran Kota Kupang, semangat itu kini menggema hingga layak menjadi inspirasi nasional.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *