Kupang, – Proyek pembangunan jalan rabat beton di depan Gedung Olahraga (GOR) Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bernilai kontrak sekitar Rp5 miliar kini telah mencapai progres fisik sebesar 40 persen. CV Tiga Putra Agung, selaku kontraktor pelaksana, melalui Direktur utamanya, Lambertus Lay, mengungkapkan bahwa meskipun target penyelesaian lebih cepat sangat diharapkan, realitas di lapangan menghadapi dinamika kompleks mulai dari keterbatasan material hingga fluktuasi ekonomi.
Dalam keterangannya pada Sabtu (13/6/2026), Lambertus Lay menekankan pentingnya sinergi positif antara kontraktor, pemerintah, dan masyarakat pengguna jalan. Ia mengakui bahwa situasi ekonomi saat ini secara langsung mempengaruhi ketersediaan material konstruksi, yang menjadi salah satu faktor penentu kecepatan pengerjaan. Proyek dengan masa pelaksanaan hingga September 2026 ini menuntut ketelitian tinggi agar dapat rampung tepat waktu.
Lambertus menyoroti aspek teknis yang membutuhkan ketelitian tinggi. Saat ini, pekerjaan telah mencakup pengaspalan sepanjang 471 meter dengan sistem kemiringan satu sisi (one-side slope) untuk memastikan drainase yang optimal. Namun, terdapat tambahan pekerjaan analitis dan fisik sepanjang 200 meter yang memerlukan penanganan khusus.
“Kami berharap masih dalam kondisi normal. Pekerjaan lebih cepat tentu lebih baik, namun kualitas adalah standar utama. Kami meminta adanya pengertian dari para pengguna jalan. Untuk bagian tambahan 200 meter tersebut, kami juga mengajukan permohonan penambahan waktu agar hasil akhir benar-benar sesuai spesifikasi dan aman,” jelas Lambertus.
Permohonan penambahan waktu ini dinilai wajar mengingat kompleksitas analisis tanah dan struktur yang harus dilakukan sebelum pengecoran beton pada titik-titik kritis tersebut.
Menanggapi isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi tantangan umum bagi industri konstruksi saat ini, Lambertus memberikan perspektif realistis. Ia menyatakan bahwa dalam dunia konstruksi, ada dua pilihan ketika menghadapi volatilitas harga: menerima risiko atau menolak pekerjaan.
“BBM memang sangat mempengaruhi pekerjaan. Faktanya, kendala teknis dan material adalah risiko yang harus diterima sebagai bagian dari komitmen kontrak. Kami memilih untuk tetap menjalankan pekerjaan karena tanggung jawab kami terhadap infrastruktur publik,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa CV. Tiga Putra Agung tetap berkomitmen menyelesaikan proyek meski margin keuntungan mungkin tertekan oleh biaya operasional yang melonjak.
Lambertus Lay menutup keterangannya dengan ajakan terbuka bagi semua pihak. Ia mengundang kritik konstruktif jika ditemukan kekurangan dalam pelaksanaan, namun juga meminta dukungan moral dan praktis agar proyek ini dapat bermanfaat maksimal bagi masyarakat.
“Diharapkan kepada pihak manapun untuk selalu berpikir positif. Fakta di lapangan menunjukkan kami bekerja keras. Tanpa dukungan dan pemahaman yang baik, pemanfaatan infrastruktur ini tidak akan optimal. Mari kita dukung perencanaan ini melalui proses yang transparan. Jika ada hal yang kurang, dikritisi saja agar berjalan sesuai harapan,” pungkasnya.
Dengan progres 40 persen yang telah dicapai, masyarakat diharapkan dapat bersabar selama masa transisi pengerjaan sisa 60 persen, termasuk penanganan titik-titik tambahan yang sedang dalam tahap analisis teknis. Kemitraan yang sehat antara penyedia jasa dan pengguna jalan dinilai kunci keberhasilan proyek.

Tinggalkan Balasan