Kupang,– Momentum wisuda Angkatan ke-22 Program Studi Manajemen S1 Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang tak sekadar seremoni kelulusan. Lebih dari itu,
panggung ini menjadi ruang refleksi dan penegasan arah masa depan, baik dari pimpinan kampus maupun para alumni yang baru saja menapaki gerbang dunia profesional.
Dalam Rapat Senat Terbuka yang digelar di Aston Hotel,Sabtu 18 April 2026, Ketua STIM Kupang, Dr. Adrianus Aluman, menyampaikan pesan tegas tentang makna sejati pendidikan tinggi.
Ia menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi harus memiliki integritas, etika, dan tanggung jawab sosial.
“Wisuda bukan garis akhir. Ini adalah titik awal untuk menghadapi dunia yang menuntut adaptasi, kreativitas, dan integritas,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan ke depan semakin kompleks dan tidak selalu memberikan kepastian. Karena itu, lulusan dituntut mampu membaca peluang, berinovasi, dan tetap berpegang pada nilai kejujuran serta semangat melayani.
Dr. Adrianus juga menegaskan peran penting lulusan sebagai agen perubahan, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur. Ia berharap para alumni tidak hanya berorientasi pada kesuksesan pribadi, tetapi juga mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Jadilah pribadi yang membawa manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi bangsa dan negara,” tambahnya.
Alumni: “Gelar Bukan Segalanya, Proses yang Membentuk Kami”
Sementara itu, suara reflektif datang dari perwakilan alumni, Mardila Kebkole, yang menyampaikan bahwa perjalanan menjadi sarjana adalah akumulasi dari proses panjang yang penuh dinamika.
“Hari ini adalah pertemuan dari berbagai cerita. Ada yang sudah lebih dulu masuk dunia kerja dan belajar tentang tekanan, tanggung jawab, serta arti profesionalisme,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kelulusan bukan hanya tentang meraih gelar, melainkan tentang bagaimana karakter dan sikap terbentuk selama proses pendidikan.
“Sejatinya lulusan tidak hanya dilihat dari gelarnya, tetapi dari sikap, karakter, dan bagaimana memperlakukan sesama,” tegasnya.
Dalam pernyataannya yang kuat, Mardila menyebut bahwa seluruh wisudawan disatukan oleh satu hal yang sama: proses.
“Kami mungkin datang dari latar belakang berbeda, tapi hari ini kami disatukan oleh proses yang membentuk kami menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia nyata,” katanya.
Ia juga menyampaikan harapan agar STIM Kupang terus berkembang menjadi institusi yang terbuka terhadap kritik dan mampu menjadikan setiap masukan sebagai dasar untuk berbenah.
Pesan dari Ketua STIM dan suara alumni dalam momen wisuda ini menggambarkan satu benang merah: pendidikan bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi tentang pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi realitas.
Di tengah perubahan dunia yang cepat, integritas, kemampuan beradaptasi, dan nilai kemanusiaan menjadi fondasi utama.
Wisuda ini bukan sekadar perayaan kelulusan, tetapi penegasan bahwa masa depan bangsa bertumpu pada generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat dan berorientasi pada dampak.

Tinggalkan Balasan