Kupang, -Pemilu adalah gema hati rakyat. Setiap tetes tinta di jari, setiap kertas yang dilipat, adalah doa yang diam-diam terucap: “Semoga ada perubahan. Semoga ada keadilan. Semoga ada pemimpin yang berpihak pada kami.”
Tapi mari kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri—
Sudahkah suara itu kembali kepada kita dalam bentuk kesejahteraan?
Sudahkah pemimpin yang lahir dari suara rakyat itu hadir di tengah denyut kehidupan rakyatnya?
Atau suara itu hilang, larut dalam kepentingan sempit yang hanya memuaskan segelintir orang?
Rakyat harus sadar…
Bahwa suara yang digerakkan oleh kepentingan sesaat, oleh godaan materi, oleh janji manis tanpa bukti, tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang berpihak pada mereka.
Suara semacam itu hanya akan kembali sebagai kebijakan yang jauh dari jeritan rakyat kecil.
Tapi bila suara rakyat diberikan kepada sosok yang rekam jejaknya nyata, yang berdiri bersama rakyat bahkan ketika tak ada kamera yang merekamnya, yang setiap detak langkahnya adalah perjuangan untuk semua—
Maka rakyat tak perlu cemas.
Sebab pemimpin semacam itu akan selalu ingat dari mana ia berasal. Ia akan memimpin dengan hati, bukan hanya dengan kuasa.
Refleksi ini adalah pengingat:
Kedaulatan ada di tangan rakyat. Dan kualitas kepemimpinan selalu ditentukan oleh kualitas kesadaran rakyatnya.
Maka saat bilik suara kembali terbuka, pastikan suara kita bukan sekadar formalitas.
Pastikan ia lahir dari kejernihan nurani dan keberanian untuk memilih yang benar.
Sebab suara rakyat bukan hanya memilih pemimpin.
Ia memilih masa depan.
Ia memilih hidup kita sendiri.(***).

Tinggalkan Balasan