“Tak Hanya Infrastruktur, Filmon Loasana Juga Tangani Kebutuhan Medis Warga”

Kupang,– Rabu, 14 April 2026, menjadi potret langka tentang bagaimana politik bisa hadir dalam bentuk paling nyata: bekerja, mendengar, dan menyentuh langsung kehidupan warga.

Di ruas Jalan Naimata, Kota Kupang, pagi itu tidak ada seremoni, tidak ada panggung pidato. Yang ada hanya warga dengan alat seadanya, menutup lubang jalan yang selama ini mengancam keselamatan.

Di tengah mereka, tampak sosok anggota dewan, Filmon Loasana, yang memilih turun tangan, bukan sekadar mengamati.

Ia ikut menambal jalan bersama warga—sebuah tindakan sederhana, tetapi sarat makna di tengah seringnya kritik terhadap lambannya respons infrastruktur.

Aksi gotong royong itu menjadi simbol bahwa pelayanan publik tidak selalu harus menunggu program besar, tetapi bisa dimulai dari keberpihakan langsung di lapangan.

Namun, cerita hari itu tidak berhenti di jalan berlubang.Di hari yang sama, Filmon bergerak ke Kelurahan Namosain, memasuki ruang sunyi yang jarang tersentuh sorotan: rumah keluarga Nunbala.

Di sana, ia bertemu Fenci Nunbala, bocah tujuh tahun yang sejak bayi mengalami gangguan kesehatan serius setelah kejang akibat demam tinggi.

Sejak peristiwa itu, perkembangan Fenci terhambat. Ia tidak mampu menggerakkan tubuh secara normal dan kesulitan berbicara. Seluruh aktivitasnya bergantung pada sang ibu, Wati Sakan, yang selama bertahun-tahun harus menggendong anaknya ke mana pun.

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tidak mampu melanjutkan pengobatan secara memadai. Fenci pun tumbuh dalam kondisi yang jauh dari akses layanan kesehatan optimal.

Melihat situasi tersebut, Filmon tidak datang dengan janji. Ia langsung memberikan kursi roda untuk membantu mobilitas Fenci—sebuah bantuan sederhana yang langsung menjawab kebutuhan mendesak keluarga.

Lebih dari itu, ia juga memfasilitasi penanganan medis lanjutan dengan merujuk Fenci untuk mendapatkan perawatan di RSUD S.K. Lerik Kupang, membuka kembali akses kesehatan yang sempat terhenti sejak bertahun-tahun.

“Ini bukan sekadar bantuan. Ini tanggung jawab kemanusiaan. Anak seperti Fenci berhak mendapatkan layanan yang layak,” ujar Filmon.

Ia menegaskan bahwa keberpihakan terhadap kelompok rentan bukan bentuk ketidakadilan, melainkan esensi dari keadilan sosial itu sendiri.

“Kesetaraan bukan berarti semua diperlakukan sama, tetapi setiap orang dipenuhi kebutuhannya secara adil,” katanya.

Di tengah dinamika politik yang sering dipenuhi retorika, rangkaian tindakan ini menghadirkan narasi berbeda: politik sebagai kerja nyata, bukan sekadar wacana.

Dari jalan yang ditambal bersama warga hingga upaya membuka kembali akses kesehatan bagi seorang anak, hari itu menunjukkan satu benang merah—bahwa pelayanan publik yang konsisten mampu menjembatani kebutuhan besar dan kecil sekaligus.

Bagi keluarga Nunbala, bantuan tersebut bukan hanya soal materi, tetapi harapan baru yang lama hilang.

“Terima kasih… kami sangat terbantu. Tuhan kirim orang baik untuk kami,” ucap Wati Sakan lirih.

Di Naimata, lubang jalan mulai tertutup. Di Namosain, jalan panjang pemulihan seorang anak mulai terbuka.

Di antara keduanya, publik melihat satu pesan yang kuat: ketika politik benar-benar hadir, ia tidak hanya memperbaiki infrastruktur—tetapi juga memulihkan harapan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *