Soe,– Papan reklame bertuliskan “Selamat Datang di Taman Nasional Hutan Mutis Timau” tumbang dan hilang tanpa jejak setelah dihantam angin topan dan petir pada Jumat (31/1/2025) sore. Peristiwa ini terjadi di kawasan Hutan Adat Gunung Mutis, yang kini ditetapkan sebagai Taman Nasional Mutis-Timau.
Insiden ini menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Tokoh adat Mollo mengaitkan kejadian tersebut dengan upacara sakral yang digelar oleh para Usif dan Amaf sebagai bentuk penolakan terhadap taman nasional. Ketua Dewan Pembina Forum Sejarah dan Budaya Timor (FSBT), Alfred, menegaskan bahwa tumbangnya papan reklame ini bukan sekadar peristiwa alam biasa.
“Rata dengan tanah! Papannya pun hilang terbawa angin. Tidak diketahui keberadaannya,” tegas Alfred dalam keterangannya.
Di media sosial, sejumlah warga juga mengaitkan insiden ini dengan perlawanan leluhur terhadap proyek taman nasional. Salah satu pengguna Facebook menulis, “Ritual adat sakral para Usif dan Meo membuahkan hasil. Bukti bahwa leluhur Mutis menolak semua ini. Semoga mereka yang menjual Mutis juga mendapat teguran!”
Penetapan Gunung Mutis-Timau sebagai taman nasional memang menuai polemik. Masyarakat adat menilai kebijakan ini berpotensi mengancam hak-hak leluhur dan keberlanjutan kehidupan adat. Mereka khawatir status taman nasional akan membatasi akses masyarakat adat terhadap tanah yang telah mereka jaga secara turun-temurun.
Hingga kini, pihak berwenang belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, peristiwa ini semakin memperkuat suara perlawanan masyarakat adat terhadap kebijakan yang dinilai mengabaikan warisan leluhur mereka. Apakah ini pertanda alam atau murni bencana? Perdebatan masih terus bergulir.(ft/tim).

Tinggalkan Balasan