Magelang, – Dalam kesunyian pagi yang masih diselimuti embun, Gereja Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi saksi sebuah momen luar biasa. Di altar kudus itu, suara-suara pemimpin daerah menggema, menyatu dalam harmoni iman, membawakan pujian “Hidup Ini Adalah Kesempatan.”
Di antara mereka, tampak Buche Lioe, Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) terpilih, berdiri teguh bersama para kepala daerah beragama Kristen dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka bukan sekadar pejabat, tetapi gembala bagi rakyatnya, yang hari ini memilih merendahkan hati, melantunkan lagu penuh makna di hadapan Sang Khalik.
Ketika melodi pertama mengalun, suasana gereja berubah. Para pemimpin ini bukan hanya menyanyikan sebuah lagu, tetapi menyampaikan pesan ketulusan dan pengabdian. “Hidup ini harus jadi berkat,” begitu liriknya, begitu pula mereka hidup dalam tugas mereka—melayani, memimpin, dan memberi arti bagi rakyat yang mereka pimpin.
Mata jemaat yang hadir berkaca-kaca. Ada yang terisak, ada yang menunduk dalam doa. Pesan dari pujian itu begitu mendalam: jabatan, kekuasaan, dan segala yang dunia tawarkan tak lebih dari kesempatan untuk mengabdi.
Di tengah nyanyian, suara Buche Lioe terdengar begitu mantap. Sosoknya yang dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati dan penuh semangat, hari ini mempersembahkan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata politik: ia mempersembahkan hatinya kepada Tuhan.
Bukan hanya Bupati TTS, tampak Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling, Gubernur Maluku Utara Sherly Djoanda, Bupati Minahasa Utara Joune Ganda, serta pemimpin dari Kepulauan Sangihe, Kepulauan Sitaro, dan Poso. Mereka berdiri dalam satu barisan, melupakan sekat geografis, partai, dan perbedaan lainnya.
Di rumah Tuhan, mereka adalah saudara dalam iman. Inilah kepemimpinan sejati—tidak hanya tentang kebijakan dan strategi, tetapi juga tentang jiwa yang terbuka, tentang pemimpin yang berani tunduk kepada Tuhan yang lebih besar dari segalanya.
Momen ini terjadi dalam rangkaian retret pembekalan kepemimpinan yang diadakan selama sepekan di Akmil Magelang. Program ini tidak hanya mengajarkan strategi pemerintahan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan yang kokoh.
Ketika para pemimpin daerah ini meninggalkan gereja, mereka tidak hanya pulang dengan ilmu baru, tetapi dengan hati yang diperbarui. Mungkin, di tengah tugas mereka yang penuh tantangan, lagu yang mereka nyanyikan hari ini akan terus terngiang di hati mereka—mengingatkan bahwa setiap keputusan, setiap kebijakan, setiap langkah adalah kesempatan untuk membawa terang bagi masyarakat.
Hari itu, di Magelang, di dalam gereja yang sederhana namun penuh kemuliaan, para pemimpin daerah menanamkan satu pesan yang akan terus dikenang: kepemimpinan sejati bukan tentang kehormatan, melainkan tentang pelayanan.
Dan ketika mereka kembali ke daerah masing-masing, suara mereka di POUK Akmil Magelang akan tetap bergema—bukan hanya sebagai nyanyian, tetapi sebagai komitmen untuk menjadi pelita di tengah bangsa ini.

Tinggalkan Balasan