TTU,-Di tanah yang merekam jejak panjang peradaban Timor, di mana setiap batu dan pohon adalah saksi bisu perjalanan waktu, seorang perempuan tua berbalut kisah pilu menanti keadilan. Di antara rerumputan liar yang melambai diterpa angin, Mama Petronela Tilis berdiri di gerbang rumahnya, hatinya mengembara di lorong-lorong asa yang nyaris pudar.
Hari itu, Rabu, 12 Maret 2025, menjadi ukiran sejarah bagi perempuan renta ini. Bak fajar yang menyingkap kabut gelap malam, langkah tegas seorang pemimpin perempuan menapak ke tanah Hueknutu, Oemeu, Desa Popnam, Kecamatan Noemuti. AKBP Eliana Papote, S.I.K, M.M, Kapolres Timor Tengah Utara yang baru, datang tidak sekadar membawa seragam dan jabatan, tetapi dengan nurani yang berbicara.
Baju merah bercorak putih yang ia bawa, kini membalut tubuh tua yang telah menyimpan ribuan doa. Jemarinya, yang biasa menggenggam senjata dan menandatangani perintah, kini merapikan helaian rambut putih yang berantakan diterpa usia. Dalam keheningan itu, tak ada sekat, tak ada pangkat—hanya seorang perempuan yang memeluk perempuan lain dalam bahasa kasih yang tidak butuh banyak kata.
Dunia hukum sering kali keras dan dingin, tapi hari itu, ia menjelma menjadi hangat. Selembar daun sirih berpindah tangan, bersama dengan pinang dan kapur, menyatu dalam tradisi yang lebih tua dari hukum tertulis. Sebuah ikrar tak terucap, bahwa keadilan bukan sekadar jargon dalam pidato, tetapi harus dirasakan hingga ke akar-akar rumput.
Dalam percakapan yang sederhana namun bermakna, Kapolres menegaskan bahwa laporan polisi terkait dugaan pengrusakan pagar oleh Blasius Lopis bukan sekadar arsip yang terselip di antara tumpukan berkas, tetapi sebuah janji yang harus ditepati. Hukum harus tegak, tidak boleh goyah oleh waktu atau kekuasaan yang tak kasatmata.
Tak hanya kata, Kapolres juga menghadirkan tindakan nyata. Bantuan sembako diserahkan, bukan sebagai belas kasihan, tetapi sebagai pengingat bahwa negara hadir bagi mereka yang terpinggirkan. Empat roll kawat duri turut diserahkan—bukan sekadar kawat, tetapi simbol batas yang harus dijaga, hak yang harus dihormati.
Di tanah Timor yang keras dan berbatu, di mana hujan adalah berkah yang dinanti dan matahari kadang menjadi penguasa yang tak kenal ampun, hari itu sejuk oleh ketulusan. Mama Petronela Tilis, yang selama ini melipat harapan dalam doa, kini melihat sinar baru. Ia bertanya dalam batinnya, “Apakah ini jawaban Ilahi?”
Keadilan tidak boleh menjadi fatamorgana di tengah padang kemarau. Hukum bukan sekadar ultimatum terakhir, tetapi harus menjadi perisai pertama bagi mereka yang lemah. Primum remedium harus ditegakkan—agar pengrusakan bukan hanya dianggap sebagai perkara sepele, tetapi sebagai ancaman terhadap tatanan hidup yang harus dilindungi.
Jika hukum benar dijalankan sebagaimana mestinya, ia tidak akan menjadi pisau yang hanya tajam ke bawah. Ia akan menjelma menjadi mata air di tanah yang dahaga akan keadilan. Dan hari itu, di pelukan Kapolres TTU, asa Mama Petronela Tilis kembali bersinar, secerah matahari Timor yang tak pernah ingkar janji untuk terbit setiap pagi.( Arnold).

Tinggalkan Balasan