Kupang, — Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas infrastruktur jalan, meskipun berbagai tantangan, terutama kondisi alam yang ekstrem, menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan proyek.
Kepala BPJN NTT, Agustinus Junianto, dalam konferensi pers yang digelar di Aula BPJN NTT, Selasa (18/6), menyampaikan bahwa saat ini tengah ditangani paket jalan strategis Wakelembu di Sumba dengan total nilai Rp725 miliar. Proyek ini menjadi salah satu paket prioritas tahun 2025, dengan fokus utama pada peningkatan aksesibilitas kawasan timur Nusa Tenggara Timur.
“Yang harus segera disiapkan saat ini adalah akses utama di wilayah Lewotobi. Meskipun Gunung Lewotobi di Flores Timur mengalami erupsi, kondisi infrastruktur jalan tetap kami pastikan lancar dan aman untuk dilalui,” ujar Agustinus.
Ia menekankan bahwa mutu dan estetika adalah prinsip utama dalam pelaksanaan proyek. Hingga pertengahan Juni 2025, progres fisik paket-paket pekerjaan telah mencapai 28,18 persen, dengan realisasi keuangan 23,27 persen. Tantangan utama masih datang dari kondisi alam yang kurang bersahabat, seperti tanah labil dan cuaca ekstrem.
28 Paket Pekerjaan 2025, Tanpa Jalan Baru
Untuk tahun anggaran 2025, BPJN NTT tidak merencanakan pembangunan jalan baru. Namun, tetap ada 28 paket pekerjaan yang akan dilaksanakan, terdiri atas 27 paket melalui e-katalog dan 1 paket tender.
Penanganan longsor juga menjadi prioritas, dengan total 135 titik longsor dalam 12 paket pekerjaan. Rinciannya meliputi 20–30 titik di wilayah Timor, terutama di sektor perbatasan timur dan barat, 4 titik di Flores, dan 2 titik di Sumba. Selain itu, 8 titik longsor baru telah diusulkan ke Kementerian PUPR untuk dimasukkan dalam rencana anggaran mendatang.
Dari total kebutuhan awal sebesar Rp1,2 triliun, anggaran yang disetujui turun menjadi Rp551 miliar. Kendati demikian, BPJN tetap menekankan pentingnya menjaga mutu dan keberfungsian jalan bagi masyarakat.
Labuan Bajo dan Drainase Kupang Masuk Fokus
Proyek strategis lainnya mencakup pembangunan jalan di kawasan pariwisata Labuan Bajo sepanjang 132 km, dengan nilai Rp125 miliar. Meski menghadapi struktur tanah rawan longsor, BPJN terus melakukan upaya teknis untuk memastikan keamanan dan kualitas jalan.
Di ibu kota provinsi, penanganan drainase di Jalan Ahmad Yani, Kupang, juga menjadi perhatian utama dalam mengatasi genangan air dan memperpanjang umur jalan.
NTT Jadi Prioritas Nasional
NTT mendapatkan salah satu alokasi anggaran terbesar secara nasional. Kepala BPJN menyebutkan bahwa terdapat sekitar 170-an titik rawan longsor di wilayah ini. Oleh karena itu, pendekatan prioritas dan metode penanganan reguler menjadi kunci keberhasilan.
“Bicara jalan, kita bicara tentang nadi kehidupan. Ini bukan hanya proyek, tapi bagian dari membangun peradaban,” ujarnya.
Sinergi Bangun Negeri
Menutup pernyataannya, Agustinus menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan media massa.
“Kita tidur di kamar yang berbeda, tetapi punya mimpi yang sama untuk membangun negeri ini. Media adalah mitra kami, bukan sekadar peliput, tapi penyambung pesan kepada rakyat. Kami terbuka menerima kritik dan saran demi perbaikan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan