“Ketika Sentuhan Hati Serta Empati Kapolres Eliana Menembus Dunia Sunyi tanpa Suara Bocah Lino”

Kefamenanu,-Nimasi,sebuah desa kecil di Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, hidup seorang bocah bernama Lino, 10 tahun. Ia tidak bisa bicara, tidak bisa mendengar — sunyi sejak usia empat tahun, setelah tubuh kecilnya disambar sepeda motor yang melintas. Benturan keras itu merenggut sebagian saraf pendengarannya, meninggalkan Lino dalam dunia tanpa suara.

Namun di balik diamnya, ada mimpi yang tak pernah padam: Lino ingin sekolah, seperti anak-anak lain. Ia ingin mengenal huruf, belajar berhitung, dan mungkin suatu hari bisa memanggil ibunya, meski hanya lewat bisikan lirih. Tapi bagi keluarga sederhana seperti mereka, sekadar makan hari ini sudah sebuah syukur.

Beberapa kali tim medis dari puskesmas Nimasi mencoba membantu Lino. Seorang dokter memberi rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun hasilnya jelas: Lino harus dibawa ke Kupang, untuk pemeriksaan saraf dan pendengaran yang lebih lengkap. Jarak dan biaya menjadi batu sandungan. Terlebih, alat bantu dengar yang ia butuhkan tidak ditanggung oleh BPJS.

Impian Lino sederhana — hanya ingin mendengar kembali.

Pertemuan di Kantor Bupati

Harapan itu datang tanpa diduga. Pada suatu pagi di kantor Bupati TTU, Lino dipertemukan dengan sosok berseragam cokelat: AKBP Eliana Papote, Kapolres TTU. Seorang perempuan yang mengemban jabatan tinggi di tubuh Polri, namun hatinya tetap lembut terhadap mereka yang paling lemah.

Dalam pertemuan itu, Eliana Papote tidak datang membawa wibawa, melainkan empati. Di hadapan Bupati TTU, ia menyerahkan sebuah telepon genggam kepada Lino. “Kalau ada yang mendesak, atau butuh bantuan, kita bisa tahu dan bantu lebih cepat,” ujarnya lirih.

Telepon itu bukan sekadar alat komunikasi. Di tangan Lino, benda itu menjelma jadi simbol: jembatan antara sunyi dan dunia luar. Kapolres Eliana, perempuan pertama yang memimpin Polres TTU, mengerti bahwa kadang bentuk perlindungan tidak selalu berupa patroli atau penegakan hukum — tapi hadir untuk mendengar, bahkan bagi mereka yang tak bisa mendengar.

Polisi dengan Telinga Hati

Tak banyak pejabat yang berhenti sejenak untuk mendengarkan sunyi rakyatnya. Tapi Eliana Papote berbeda. Ia berjalan pelan, mengamati, mendengar dengan hati. Ia tahu, di balik keterbatasan Lino, tersimpan asa yang ingin hidup.

“Polisi bukan hanya pelindung bagi mereka yang kuat, tapi juga penopang bagi yang lemah,” ucap Eliana suatu kali.

Langkah kecil itu menyalakan bara harapan baru — bukan hanya bagi Lino, tapi juga bagi siapa pun yang menyaksikan. Bahwa kemanusiaan masih hidup di tengah seragam, di balik pangkat, di antara rutinitas penegakan hukum.

Kisah Lino dan Kapolres Eliana Papote adalah potret kecil dari Indonesia Timur yang hangat: tempat di mana empati masih menjadi bahasa utama. Dari ruang kantor bupati di Kefamenanu, pesan itu menggema — bahwa pejabat bisa hadir bukan hanya sebagai simbol kekuasaan, tapi juga sebagai pelindung yang benar-benar “mendengar”.

Lino mungkin masih hidup dalam dunia tanpa suara. Tapi kini, dunia justru mulai mendengarkan kisahnya — berkat seorang Kapolres perempuan bernama AKBP Eliana Papote, yang membuktikan bahwa hati yang mendengar jauh lebih kuat dari telinga yang sempurna.

 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *