Kolaborasi Strategis BPDAS dan Pemda TTU: 1000 Anakan Durian Musang King untuk Kesejahteraan dan Pelestarian Lingkungan

TTU,– 

Dalam upaya nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Banain Noelmina Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan program strategis pembagian 1000 anakan Durian Musang King. Program ini secara simbolis dimulai di Desa Tubu, Kecamatan Bikomi Nilulat, pada Selasa, 5 Agustus 2025, sebagai bagian dari sinergi lintas sektor dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Kepala BP DAS Banain Noelmina NTT, Kludolfus Tuames, dalam keterangannya kepada media menyampaikan bahwa program ini tak sekadar berbicara tentang pertanian, melainkan menyentuh aspek strategis pembangunan berkelanjutan: peningkatan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan struktur ekonomi dari desa hingga ke tingkat nasional.

“Tujuan dari program ini adalah menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menghidupkan roda ekonomi masyarakat. Ketika ekonomi rumah tangga kuat, maka desa menjadi kuat. Desa yang kuat membentuk kecamatan yang tangguh, dan pada akhirnya memperkuat ekonomi daerah hingga nasional,” tegas Tuames.

Ia menambahkan bahwa durian Musang King dipilih karena memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik maupun internasional, sehingga potensi ekonominya besar. Hasil panen di masa depan diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten TTU.

Distribusi Merata dan Harapan Lima Tahun ke Depan

Wakil Bupati TTU, Kamelus Elu, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa 1000 anakan durian akan didistribusikan ke dua desa: Desa Tubu menerima 600 anakan, sementara Desa Nilulat menerima 400 anakan. Pemerintah berharap masyarakat dapat menanam dan merawat bibit ini dengan optimal agar hasilnya dapat dipanen dalam jangka waktu 4–5 tahun ke depan.

“Kami optimis program ini akan membawa dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat dalam lima tahun ke depan. Ini bukan hanya soal bertani, tetapi bagian dari transformasi ekonomi masyarakat desa melalui komoditas unggulan yang bernilai tinggi,” ujar Elu.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya pengandangan hewan ternak yang selama ini masih dilepasliarkan agar tidak merusak tanaman produktif. Pekarangan rumah juga diimbau untuk dimanfaatkan secara maksimal dengan tanaman bermanfaat.

Durian sebagai Instrumen Ekonomi dan Ekologi

Program ini menjadi cerminan dari pendekatan ekologi-ekonomi (eco-economic approach), di mana pelestarian lingkungan dilakukan bersamaan dengan penguatan ekonomi lokal. Penanaman durian bukan hanya sebagai komoditas pasar, melainkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, dan pelindung daerah tangkapan air di kawasan hulu.

Selain memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, program ini juga mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup, yang selama ini masih menjadi tantangan besar di kawasan timur Indonesia.

“Jika akar ekonomi ini tumbuh dari desa, kita tidak hanya menciptakan kesejahteraan, tetapi juga kemandirian dan kekuatan bangsa dari akar rumput,” tutup Kludolfus Tuames.

Model Kolaborasi Masa Depan

Program ini menjadi salah satu model kolaborasi antara pemerintah daerah dan instansi vertikal di bidang kehutanan yang dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan dukungan masyarakat, visi pembangunan hijau yang inklusif dan berkelanjutan bukan lagi sekadar harapan, tapi sedang diwujudkan langkah demi langkah.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *