Soe, — Rencana pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak longsor di Desa Kuatae, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), hingga kini belum menunjukkan kepastian. Padahal, Yayasan Yusinta Ningsih Sejahtera (YNS) telah menyatakan komitmennya sejak awal untuk membangun 100 unit huntara di lokasi relokasi Sonapolen, Kelurahan Cendana, SoE, sebagai solusi tanggap darurat bagi para korban.
Ketidakjelasan itu mencuat setelah pertemuan antara Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, yang dimediasi oleh Tenaga Ahli Menko Pangan RI, Brigjen TNI (Purn) Simon Petrus Kamlasi. Dalam pertemuan tersebut, BNPB dikabarkan siap turun tangan membangun hunian tetap (huntap) di lokasi yang sama untuk warga terdampak.
Namun hingga kini, pihak YNS mengaku belum menerima pemberitahuan resmi dari Pemerintah Kabupaten TTS terkait perubahan skema bantuan tersebut. Informasi mengenai rencana pembangunan huntap justru didapat dari pemberitaan media.
“Kami belum menerima surat atau keterangan resmi dari Pemkab. Informasi bahwa akan ada pembangunan huntap oleh BNPB kami ketahui dari media. Jika benar, dan dana kami dianggap tak lagi diperlukan karena ada pendobelan bantuan, maka kami tetap menyerahkan anggaran itu kepada Pemkab TTS untuk dimanfaatkan bagi kebutuhan masyarakat lainnya yang belum tersentuh,” tegas Pendiri YNS, Yusinta Ningsih Nenobahan Syarief, Jumat (27/6/2025).
Dana hibah sebesar Rp5 miliar yang telah disiapkan YNS dipastikan tidak akan ditarik kembali. Yusinta menegaskan bahwa komitmen YNS sejak awal adalah membantu warga TTS, khususnya mereka yang menjadi korban bencana, agar segera memiliki tempat tinggal yang layak.
“Kami ingin semua proses berjalan transparan dan akuntabel. Ini bukan sekadar bangun rumah, tapi membangun harapan. Karena itu, siapa pun yang hadir membantu warga, baik pemerintah pusat maupun daerah, layak kita apresiasi. Yang terpenting adalah rakyat segera mendapat perlindungan dan kepastian tempat tinggal,” ujar Yusinta.
Sebelumnya, pada 19 Juni 2025, YNS telah menyampaikan secara resmi dalam pertemuan bersama Pemerintah Kabupaten TTS bahwa mereka siap membangun 100 unit huntara. Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Bupati, Wakil Bupati, dan sejumlah kepala dinas teknis. Pembangunan direncanakan mulai Agustus 2025 setelah proses perizinan dan pemadatan lahan rampung.
Namun, hingga akhir Juni ini, status lahan yang akan digunakan masih dalam proses pengurusan izin, karena merupakan aset Dinas Kehutanan.
Di tengah dinamika ini, YNS tetap berkomitmen untuk terus hadir dalam kerja-kerja kemanusiaan. Sebagai lembaga filantropi lokal, YNS telah lama aktif di wilayah TTS, tidak hanya dalam penanganan pascabencana, tetapi juga dalam pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Kami hadir bukan untuk bersaing bantuan, tapi untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang mendesak. Jika huntap benar-benar dibangun oleh BNPB, maka kami akan arahkan bantuan kami ke sektor lain yang mendesak — seperti kesehatan, pendidikan, atau air bersih. Di TTS, tantangan sosial masih sangat banyak,” pungkas Yusinta.
Langkah YNS ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan bencana, serta pentingnya komunikasi dan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan elemen masyarakat sipil agar bantuan yang ada dapat dimaksimalkan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Tinggalkan Balasan