Kefamenanu, — Setelah melewati proses panjang dan sempat terkendala regulasi pusat, proyek pembangunan bandara di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, akhirnya mendapat status khusus dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Bandara tersebut kini ditargetkan segera beroperasi dalam waktu dekat.
Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, mengungkapkan bahwa perjuangan menghadirkan bandara perintis di wilayahnya tidaklah mudah. Salah satu hambatan utama adalah aturan jarak antarbandara yang selama ini menjadi syarat mutlak dalam pembangunan fasilitas penerbangan.
“Awalnya kita terbentur regulasi, karena jarak TTU ke bandara terdekat di Atambua hanya sekitar satu setengah jam, sementara aturan mensyaratkan minimal tiga jam,” ujar Bupati yang akrab disapa Falen Kebo.
Namun demikian, pemerintah daerah tidak menyerah. Dengan mengedepankan posisi strategis TTU sebagai wilayah perbatasan negara, serta pentingnya akses transportasi udara untuk mendukung program nasional, usulan pembangunan bandara terus diperjuangkan hingga akhirnya memperoleh pengecualian.
Status khusus yang diberikan pemerintah pusat memungkinkan bandara tersebut beroperasi dengan fungsi terbatas, yakni melayani penerbangan pesawat perintis. Meski demikian, potensi pengembangannya cukup besar.
Falen Kebo menjelaskan bahwa panjang landasan pacu bandara berpeluang ditingkatkan hingga 2.200 meter. Selain itu, lokasi pembangunan yang berada di luar kawasan pertanian menjadi keuntungan tersendiri karena minim hambatan pembebasan lahan.
Saat ini, pemerintah daerah tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis dan administratif, termasuk penyusunan laporan resmi untuk diajukan kembali ke Kementerian Perhubungan guna memperoleh izin operasional penerbangan.
Menariknya, pengelolaan bandara tersebut diputuskan akan berada di tangan pemerintah daerah. Langkah ini dinilai strategis untuk mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kita memilih dikelola oleh Pemda agar bisa memberikan kontribusi langsung bagi daerah. SDM juga akan kita siapkan melalui Dinas Perhubungan, khususnya pada sektor perhubungan udara,” tegasnya.
Kehadiran bandara ini diharapkan menjadi game changer bagi TTU, terutama dalam membuka akses wilayah, mempercepat mobilitas barang dan orang, serta memperkuat konektivitas kawasan perbatasan Indonesia dengan negara tetangga.
Tak hanya itu, proyek ini juga dipandang sebagai simbol keberpihakan pemerintah terhadap daerah terluar, sekaligus upaya nyata memperkecil kesenjangan pembangunan antarwilayah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan