Dengan Sistem Bore Pile, Jalan Strategis Taebenu-Naimata-Liliba Kembali Dibangun untuk Ketahanan Jangka Panjang”

Kota Kupang,– Setelah empat tahun lumpuh akibat terjangan badai Seroja yang memorakporandakan Nusa Tenggara Timur pada April 2021, ruas jalan Taebenu-Naimata-Liliba akhirnya mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kota Kupang. Melalui alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) II Tahun 2025, perbaikan jalan vital penghubung Kota Kupang dan Kabupaten Kupang ini resmi dimulai.

Jalan yang sempat longsor sepanjang 50 meter itu merupakan jalur utama bagi warga dari sejumlah kelurahan di Kota Kupang menuju wilayah Baumata dan sekitarnya. Selama ini, warga terpaksa memutar jauh melalui jalur alternatif yang memakan waktu, tenaga, dan biaya lebih. Kini, harapan untuk kembali menikmati akses cepat dan aman mulai tampak nyata.

“Di lokasi longsor itu ada aliran air bawah tanah yang menyebabkan tanah labil. Setelah badai Seroja, kita sempat lakukan penanganan darurat, tapi gagal bertahan lama. Kini kita gunakan metode khusus agar lebih kuat menghadapi kondisi alam,” ungkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Kupang, Jeck Pu’u, saat ditemui di lokasi pekerjaan pada beberapa waktu lalu.

Jeck menjelaskan, perbaikan menggunakan teknologi konstruksi modern dengan sistem bore pile—teknik pondasi dalam yang mampu menopang beban besar sekaligus menjaga kestabilan tebing di lokasi rawan longsor tersebut.

“Mungkin banyak yang belum familiar dengan bore pile. Ini adalah teknik dengan alat khusus untuk mengebor tanah hingga kedalaman tertentu, lalu memasang pondasi beton bertulang yang kokoh. Biasanya digunakan untuk proyek besar seperti gedung tinggi, jembatan, dan sekarang kita terapkan di sini untuk memastikan jalan ini lebih tahan lama,” jelasnya.

Sebanyak lebih dari 100 tiang penyangga dengan kedalaman masing-masing 21 meter ditanam di lokasi longsor. Jarak antar tiang dibuat satu meter agar daya tahan terhadap pergeseran tanah maksimal, terutama saat musim hujan.

Meski teknologi tinggi telah diterapkan, Jeck tetap mengingatkan bahwa tantangan alam selalu ada. “Kita sudah maksimalkan teknologi yang ada. Jika suatu saat ada kerusakan lagi, itu murni faktor alam yang di luar kendali manusia. Namun kami optimistis dengan desain ini, jalan akan bertahan lebih lama,” tambahnya.

Sementara itu, Konsultan Pengawas Proyek, Inosentus Amatoa, melaporkan progres fisik pekerjaan hingga pertengahan Juli 2025 telah mencapai 21 persen. Sejak kontrak dimulai awal Juni, pekerjaan meliputi galian tanah, urukan dasar dengan material pilihan, serta pembesian untuk persiapan bore pile.

“Target kita penyelesaian akhir Oktober 2025, paling lambat awal November. Kami ingin di bulan November nanti warga sudah bisa kembali melintasi jalur ini dengan aman dan nyaman,” kata Inosentus.

Kehadiran kembali jalur Taebenu-Naimata-Liliba tidak hanya akan mempermudah akses warga, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan infrastruktur di Kota Kupang pasca-badai. Jalan ini diharapkan mampu menjadi urat nadi ekonomi, pendidikan, dan sosial bagi ribuan warga yang selama ini terdampak.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, kontraktor, dan masyarakat, proyek ini menjadi bukti bahwa kehancuran akibat bencana bukanlah akhir—tetapi awal dari sebuah pembangunan yang lebih tangguh.(Arnold)

 

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *