Tega!Ayah di TTS Bacok Dua Anak Kandung Hingga Tewas: Tragedi Pilu di Tengah Sawah Hijau

Skinu,– Bayangan sawah hijau nan subur di Desa Skinu, Kecamatan Toianas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mendadak berubah mencekam. Senin, 3 Maret 2024, pagi yang seharusnya dipenuhi riang anak-anak mencari udang di aliran sungai, berubah menjadi tragedi berdarah yang mengguncang hati seluruh Indonesia. Yani Taniu, seorang ayah, tega menghabisi nyawa dua putri kandungnya sendiri, Jesika dan Sarifa Taniu, dengan sebilah parang.

Kisah pilu ini bermula di tengah aktivitas keluarga di kebun. Nia Bobe, ibunda korban, menceritakan detik-detik mengerikan saat sang suami, Yani Taniu, tiba-tiba mengamuk tanpa sebab yang jelas. “Kami sedang mencari udang bersama anak-anak,” kenang Nia, suaranya masih bergetar menahan duka. “Suami saya tiba-tiba marah dan menyerang Jesika, anak bungsu kami. Ia membunuhnya di tempat!”

Jesika, gadis kecil yang seharusnya masih menikmati masa bermainnya, tergeletak tak bernyawa. Namun, kekejaman Yani tak berhenti di situ. Ia kemudian mengejar Sarifa, kakak Jesika, yang berusaha melarikan diri. Dalam kepanikannya, Sarifa terjatuh, dan ayahnya sendiri mengakhiri hidupnya dengan kejam.

“Saya lari menyelamatkan diri ke hutan, memohon pertolongan kepada Pak Ananias,” isak Nia, menggambarkan keputusasaan yang mencengkeramnya. “Setelah itu, saya langsung melapor ke warga.”

Warga Desa Skinu yang mendengar teriakan histeris Nia berhamburan ke lokasi kejadian. Mereka menemukan pemandangan mengerikan: dua jasad mungil terbujur kaku di dekat sungai, dikelilingi genangan darah. Kesedihan dan kemarahan membuncah, menghanguskan kedamaian pagi hari.

Polisi dari Polsek Ayotupas tiba di lokasi sekitar pukul 16.30 WITA. Yani Taniu berhasil diamankan tanpa perlawanan. Saat ini, ia telah ditahan dan menjalani proses hukum. Namun, motif di balik pembunuhan keji ini masih menjadi misteri yang membayangi. Apakah tekanan hidup, gangguan jiwa, atau penyebab lain yang mendorong seorang ayah tega menghabisi nyawa darah dagingnya sendiri? Pertanyaan ini masih menggantung, menjadi luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Skinu.

Tragedi ini menjadi pengingat betapa pentingnya kesehatan mental dan deteksi dini terhadap potensi kekerasan dalam rumah tangga. Kisah pilu dari Desa Skinu harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, agar tragedi serupa tak terulang kembali. Semoga jiwa Jesika dan Sarifa tenang di alam sana, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini.

Kata Kunci: #TTS #Pembunuhan #AnakKandung #TragediSkinu #KekerasanRumahTangga #NusaTenggaraTimur #Indonesia #BeritaViral #Kejahatan

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *