Rumah yang Sepi: Rindu Para Kuli Tinta pada Bunda Julie Laiskodat

Kupang,-Di ruang redaksi yang biasanya ramai, kini terasa sunyi. Sebuah kursi kosong, seakan menyimpan bisikan rindu yang teramat dalam. Kursi itu milik Bunda Julie Sutrisno Laiskodat, sosok yang bagi para jurnalis di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar tokoh publik, melainkan “ibu” yang selalu hadir dengan kehangatan dan kepedulian. Ketiadaannya, bagai senja yang kehilangan mentari, meninggalkan kesunyian yang membekas.

Bunda Julie, istri mantan Gubernur NTT dan anggota DPR RI, belakangan seperti bintang yang redup cahayanya. Kehadirannya yang dulu selalu dinantikan, kini hanya tinggal kenangan. Kenangan akan senyum ramahnya, kesediaannya berdialog, dan dukungannya yang tak pernah putus terhadap kerja-kerja jurnalistik. Ia adalah mercusuar yang membimbing, kompas yang menunjukkan arah di tengah lautan informasi yang kadang membingungkan.

Kerinduan ini bukan sekadar rasa kehilangan. Bunda Julie adalah sumber inspirasi, sebuah oase di tengah gurun berita yang kering. Pandangannya yang konstruktif, solusi yang selalu ia tawarkan, telah membantu para jurnalis memahami kompleksitas isu-isu di NTT. Ia adalah jembatan yang menghubungkan antara realitas dan pemahaman, antara fakta dan makna.

Ketiadaan Bunda Julie bagaikan kehilangan rumah. Rumah yang selalu terbuka, yang selalu menyediakan tempat berteduh, tempat berbagi cerita, dan tempat menemukan kekuatan. Rumah itu kini terasa sepi, dan para “kuli tinta” merindukan kehangatannya yang menenangkan.

Elas Jawamara: Penjaga Api di Rumah yang Sepi

Di tengah kesunyian itu, muncullah Elas Jawamara, sosok yang dipercaya Bunda Julie untuk menjadi “penjaga api” di rumah itu. Ia adalah “ketua kelas,” yang dengan setia mengayomi dan membimbing para jurnalis di desk Provinsi NTT. Elas, dengan pengalaman dan dedikasinya, menjadi penghubung antara Bunda Julie dan para wartawan, memastikan informasi tetap mengalir, akurat, dan berimbang.

Elas bukan sekadar penghubung, ia adalah teman, sahabat, dan pelindung. Ia hadir sebagai pendengar setia, memberikan masukan, dan membantu mencari solusi. Ia menjaga agar suasana kerja tetap nyaman dan kondusif, memastikan setiap jurnalis merasa dihargai dan didukung. Ia adalah cahaya kecil yang menerangi rumah yang sepi, menjaga agar api semangat tetap menyala.

Para jurnalis NTT bersyukur memiliki Elas. Ia adalah representasi dari dedikasi, integritas, dan kesetiaan. Ia adalah bukti bahwa meskipun rumah terasa sepi, kehangatan dan dukungan tetap dapat ditemukan. Ia adalah harapan, bahwa suatu hari nanti, mentari akan kembali menyinari rumah yang kini terasa sunyi.( Arnold,)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *