TTU,– Nama Yoseph Falentinus Delasalle Kebo, atau yang akrab disapa Falen Kebo, kini semakin dikenal luas bukan hanya di Timor Tengah Utara (TTU), tetapi juga di seantero Indonesia. Bukan semata karena jabatannya sebagai Bupati TTU, tetapi lebih dari itu, karena perjalanan hidupnya yang sarat inspirasi, menunjukkan perpaduan unik antara jiwa ksatria, intelektual, dan pejuang sosial. Kisah Falens Kebo adalah bukti nyata bahwa pengabdian sejati tak mengenal batas, bahkan mampu mengubah medan pertempuran menjadi medan pengabdian yang penuh makna.
Lahir dan besar di tanah “Sallu-Miomaffo, Kuluan-Maubes,” Falens Kebo sejak muda telah menunjukkan kecintaannya yang mendalam pada tanah kelahirannya. Namun, kecintaan itu tak hanya terpatri di hati, melainkan juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebelum mengabdi sebagai pemimpin daerah, Falens Kebo telah mengukir prestasi gemilang dalam karier militernya. Ia meniti karier dengan tekun, menempati berbagai posisi strategis di tubuh TNI Angkatan Darat, mulai dari analis ekonomi di Deinteldam III/Siliwangi hingga pejabat di Badan Intelijen Strategis TNI. Pengalamannya mencakup penugasan di berbagai daerah konflik dalam negeri, seperti Poso dan Papua, serta misi di luar negeri, mencakup Singapura, Inggris, Spanyol, China, Makau, Australia, Republik Ceko, Barcelona, Hong Kong, dan Portugal.
Namun, di balik seragam loreng dan berbagai penghargaan yang membanggakan – termasuk Satya Lencana Kesetiaan Delapan tahun, Satya Lencana Kesetiaan enam belas tahun, Satya Lencana Dharma Nusa, Satya Lencana Dwijasista, dan Satya Lencana Wira Nusa – tersimpan sebuah hati yang peka terhadap nasib kaum marginal. Falens Kebo bukan hanya seorang prajurit yang handal, tetapi juga seorang intelektual yang berwawasan luas. Ia berhasil meraih gelar akademik dan bahkan sempat menjadi dosen tetap di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Pasundan Bandung. Ia juga pernah menjabat sebagai komisaris di PT. Texmaco Group, menunjukkan kepiawaiannya di dunia bisnis. Namun, segala kenyamanan dan kesuksesan itu ditinggalkannya demi panggilan hati nurani yang lebih besar.
Pada tahun 2019, Falens Kebo memutuskan untuk pensiun dini dari jabatan Mayor TNI Angkatan Darat. Keputusan yang berani dan penuh pertimbangan ini diambilnya karena kecintaannya yang mendalam pada TTU. Ia ingin mengembalikan pengalaman dan keahliannya untuk membangun daerah kelahirannya. Keputusan ini menunjukkan bahwa pengabdian bagi bangsa dan negara tidak hanya dilakukan dengan seragam militer, tetapi juga dengan cara lain yang tak kurang bermakna.
Sebagai Bupati TTU, Falens Kebo terus menunjukkan komitmennya untuk memberdayakan masyarakat, khususnya kaum marginal. Ia aktif dalam berbagai organisasi masyarakat, dan perannya dalam organisasi masyarakat Beta Timor sangat dihargai. Meskipun rincian perannya masih belum terungkap secara lengkap, kehadiran dan pengaruhnya sangat terasa di kalangan masyarakat TTU. Ia terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita luhur untuk membangun Timor Tengah Utara yang lebih sejahtera dan adil.
Kehadiran Falens Kebo di tengah-tengah masyarakat TTU bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan sebuah tonggak sejarah baru. Ia adalah simbol perubahan, bukti nyata bahwa seorang pemimpin tidak hanya berasal dari kalangan elit, tetapi juga bisa muncul dari kalangan yang memiliki pengalaman hidup yang kaya dan berdedikasi tinggi untuk rakyatnya. Kisah Falens Kebo menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, bahwa pengabdian sejati tak mengenal batas dan bentuk, asalkan dilakukan dengan hati yang ikhlas dan semangat yang tak pernah padam. Dari medan pertempuran hingga medan pengabdian, Falens Kebo terus menulis kisah hidupnya dengan tinta kejujuran, keberanian, dan kecintaan yang tak terbatas pada negerinya.( Arnold).

Tinggalkan Balasan