Kupang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terus menunjukkan progres signifikan, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan penuh dari berbagai pihak menguatkan komitmen untuk menghadirkan akses makanan bergizi bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah, guna menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas hidup.
Sebagai bentuk pemantauan langsung, Deputi Pemantauan dan Pengawasan (Tawas) BGN, Mayjen (Purn) Dadang Hendrayudha, didampingi Direktur Tawas, Kolonel Armed Rudi Setiawan, S.IP., M.Han, melakukan kunjungan kerja ke Kota Kupang pada Kamis, 20 Maret 2025. Agenda utama kunjungan ini adalah memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta merumuskan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), yayasan, dan mitra yang terlibat dalam program ini.
Meninjau Dapur Mandiri MBG di Oebobo
Salah satu titik kunjungan Deputi Tawas adalah Dapur Kota Kupang Oebobo, yang menjadi bagian dari jaringan dapur mandiri MBG di NTT. Di sana, beliau melihat langsung bagaimana operasional dapur berlangsung, mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia, serta berdialog dengan tim pengelola dapur terkait tantangan yang dihadapi dalam implementasi program.
Kunjungan ini membuktikan komitmen BGN untuk memastikan setiap dapur beroperasi secara optimal dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Program MBG tidak sekadar menyediakan makanan gratis, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat lokal melalui pengelolaan bahan pangan dan tenaga kerja yang melibatkan warga sekitar.
Strategi Besar: 498 Dapur MBG di NTT pada 2025
Setelah kunjungan lapangan, Deputi Tawas melanjutkan agenda dengan pertemuan bersama SPPI, yayasan, dan mitra MBG di Hotel Harper Kupang. Pertemuan ini dihadiri oleh 40 peserta secara langsung dan lebih dari 80 peserta lainnya dari berbagai kabupaten di NTT yang bergabung secara daring melalui Zoom.
Dalam arahannya, Mayjen (Purn) Dadang Hendrayudha menegaskan bahwa program MBG merupakan inisiatif strategis yang harus dijalankan dengan serius. Saat ini, NTT telah memiliki 65 Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), terdiri dari 18 lulusan batch pertama dan 47 dari batch kedua, sementara proses perekrutan batch ketiga masih berlangsung.
“Target kita di tahun 2025 adalah membangun 498 dapur MBG di seluruh NTT. Ini bukan angka kecil, tetapi dengan kerja sama yang solid antara SPPI, yayasan, dan mitra, kita bisa mencapainya,” tegasnya.
Lebih luas, BGN telah memiliki 745 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) aktif di Indonesia dengan lebih dari 2,16 juta penerima manfaat. Pada 2025, target nasional adalah membangun 5.000 SPPG yang dapat melayani hingga 17,5 juta penerima manfaat, dengan dukungan anggaran sebesar Rp71 triliun.
Tiga Pilar Kesuksesan MBG
Demi memastikan keberhasilan program, Deputi Tawas menekankan tiga faktor kunci yang harus diperhatikan:
Anggaran – Dana yang dialokasikan untuk program ini harus digunakan secara transparan dan sesuai regulasi. Ia mengingatkan agar tidak ada pemotongan anggaran oleh yayasan atau mitra, karena penggunaan dana akan diaudit oleh Inspektorat Utama BGN, BPKP, BPK, hingga KPK.
Infrastruktur – Sarana dan prasarana yang mendukung operasional dapur harus memenuhi standar yang telah ditetapkan, guna memastikan makanan yang disajikan berkualitas dan higienis.
Sumber Daya Manusia (SDM) – Para pengelola dapur, SPPI, dan mitra harus bekerja secara profesional, meningkatkan komunikasi dan koordinasi untuk memastikan program berjalan dengan optimal.
“SPPI selaku kepala SPPG, yayasan, dan mitra sudah memiliki peran masing-masing. Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme. Jangan ada yang berjalan sendiri-sendiri, karena keberhasilan MBG bergantung pada kerja sama yang solid,” tegasnya.
Dukungan Penuh dari Masyarakat dan Mitra
Program MBG mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak, termasuk mitra lokal di Kupang. Antonio PD Sarmento, salah satu mitra BGN di Kota Kupang, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian penuh dari Deputi Tawas dan tim BGN terhadap implementasi program ini.
“Kami sangat mendukung MBG. Ini adalah bukti cinta kami kepada Pak Prabowo yang telah melahirkan program ini. Kami berharap masyarakat turut serta dalam menyukseskan MBG di NTT,” ujarnya.
Sementara itu, Rita Wadu, PIC Yayasan No Fitu Timor di SPPG Noelbaki, menyoroti betapa pentingnya kerja sama antara semua pihak untuk menyukseskan MBG.
“Program ini sangat dibutuhkan, terutama di NTT, yang masih memiliki tingkat stunting tinggi dan merupakan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi ketiga di Indonesia. Selain meningkatkan gizi anak-anak, MBG juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Terima kasih kepada Pak Prabowo atas inisiatif luar biasa ini,” ungkapnya.
Dengan target 498 dapur MBG di seluruh NTT pada 2025, program ini menjadi harapan besar bagi masyarakat. Bukan hanya soal makanan gratis, tetapi juga perbaikan gizi, peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal, serta investasi jangka panjang untuk generasi mendatang.
Keberhasilan MBG akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, yayasan, mitra, dan masyarakat. Dengan transparansi, profesionalisme, dan semangat gotong royong, program ini diharapkan menjadi solusi nyata dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat NTT.

Tinggalkan Balasan