Prof. Jappy Parlindungan Fanggidae: Bara Ilmu yang Tak Padam, Pilar Keilmuan yang Meneguhkan

Kupang, – Dalam dunia akademik, ada mereka yang sekadar singgah, dan ada mereka yang menetap, menanam akar, dan menjadi mercusuar bagi generasi mendatang. Prof. Jappy Parlindungan Fanggidae, S.E., MBA., Ph.D., adalah yang kedua. Pada Jumat, 21 Maret 2025, ia tidak hanya dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Pemasaran Sosial di Politeknik Negeri Kupang (PNK), tetapi juga mengukuhkan dirinya sebagai simbol ketekunan, keberanian, dan dedikasi dalam dunia pendidikan.

Seperti batu karang yang kokoh diterpa ombak, perjalanan akademiknya tak selalu mulus. Namun, justru dalam hempasan itu ia menemukan bentuknya, semakin kuat, semakin tak tergoyahkan. Ia bukan sekadar akademisi yang duduk di menara gading, tetapi seorang pemikir, penggerak, dan arsitek perubahan

Lahir di Kupang pada 19 Juni 1976, Prof. Jappy bukan hanya anak dari tanah Flobamora, tetapi juga putra perantau ilmu yang menembus batas-batas negeri. Ia memulai pendidikannya di SD Negeri Naikoten 1 Kupang (1982–1988), SMP Negeri 2 Kupang (1988–1991), dan SMA Negeri 1 Kupang (1991–1994)—tiga fase awal yang menjadi landasan bagi sayap keilmuannya.

Namun, ia tak berhenti di situ. Laksana kapal yang tak puas berlayar di tepian, ia menjelajah lebih jauh ke Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (1994–1998), lalu ke Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (2004–2007). Ia melangkah lebih jauh lagi, menggapai Maastricht School of Management, Belanda (2010–2011) melalui beasiswa StuNed dari Pemerintah Belanda, sebelum akhirnya mencapai puncak studinya di Queensland University of Technology, Australia (2016–2020) melalui beasiswa LPDP.

Di setiap tempat, ia bukan hanya murid yang menyerap ilmu, tetapi juga pemikir yang mencipta, peneliti yang menggali, dan guru yang membagikan.

Sebagian orang melihat ilmu sebagai beban yang harus ditanggung, tetapi Prof. Jappy melihatnya sebagai api yang harus dijaga dan dibagikan. Ia bukan lilin yang menyala untuk kemudian redup, tetapi obor yang terus menyulut semangat bagi yang lain.

Sejak 2008, ia telah menyelesaikan 41 penelitian, menerbitkan 10 artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi, dan menulis sebuah buku yang menjadi referensi bagi banyak akademisi dan praktisi. Namun, yang lebih penting dari angka-angka ini adalah dampaknya. Ilmunya bukan hanya untuk dipajang di rak perpustakaan, tetapi untuk diterapkan dalam kebijakan, bisnis, dan kehidupan sosial.

Sebagai Ketua Program Studi S2 Terapan – Pemasaran, Inovasi, dan Teknologi di PNK, ia telah menjadi nahkoda bagi banyak mahasiswa yang ingin mengarungi samudra ilmu. Sebagai tim ahli penyusunan RPJMD Kabupaten Sabu Raijua (2021) dan tim ahli Balitbangda Kota Kupang (2024), ia membuktikan bahwa akademisi bukan hanya berbicara di ruang kelas, tetapi juga di meja perumusan kebijakan.

Ia hadir di mana-mana, dari lokakarya UMKM hingga seminar kebijakan, dari pelatihan kewirausahaan hingga penataan pedagang kaki lima. Ia membuktikan bahwa ilmu tidak boleh terkurung dalam jurnal dan buku, tetapi harus berjalan di jalanan, berdialog dengan masyarakat, dan menciptakan solusi nyata.

Di dunia yang dipenuhi pencari status, Prof. Jappy adalah pencari makna. Ia tidak mendaki tangga akademik hanya untuk mengoleksi gelar, tetapi untuk membangun sesuatu yang lebih besar: generasi yang lebih cerdas, sistem yang lebih baik, dan masyarakat yang lebih kuat.

 

Sebagai Ketua Ikatan Alumni SMAN 1 Kupang Tahun 1994, ia merajut kembali benang sejarah, menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Sebagai anggota KNPI, Karang Taruna, dan Majelis GMIT Horeb Perumnas, ia menunjukkan bahwa seorang akademisi sejati tidak boleh asing dengan realitas sosial.

Ia telah menerima Satya Lencana 10 tahun sebagai ASN, tetapi lebih dari sekadar penghargaan, dedikasinya adalah bukti bahwa pengabdian bukan tentang seberapa lama kita bertahan, tetapi seberapa banyak yang kita berikan.

Setiap gelar profesor adalah mahkota ilmu, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menjadi pilar dalam dunia akademik. Prof. Jappy adalah pilar itu—tegak, kokoh, dan menopang banyak generasi.

Seperti sungai yang tak henti mengalir, ia tak akan berhenti di sini. Setiap penelitian baru adalah anak sungai yang memperluas alirannya. Setiap mahasiswa yang ia didik adalah cabang dari pohon besar yang ia tanam.

Hari ini, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar. Namun, gelar itu hanyalah tanda bagi dunia. Dalam hati mereka yang mengenalnya, ia sudah lama menjadi guru, mentor, dan inspirasi.

Selamat, Prof. Jappy Parlindungan Fanggidae. Bara ilmu yang Anda nyalakan tak akan pernah padam.

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *