Gubernur NTT Melki Laka Lena Tantang Forkoma PMKRI Siapkan UMKM: NTT Tak Boleh Terus Jadi Pasar

Kupang — Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena secara tegas meminta Forum Komunikasi Alumni PMKRI (Forkoma PMKRI) Regio Timor untuk turun tangan menyiapkan UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM) sebagai pilar utama kebangkitan ekonomi daerah.

Permintaan itu disampaikan Melki saat menghadiri Retret Forkoma PMKRI Regio Timor, di tengah kondisi ekonomi NTT yang dinilainya berada dalam situasi tidak sehat.

“Saya minta Forkoma tidak berhenti di forum diskusi. Forkoma harus mempersiapkan UMKM dan IKM NTT yang benar-benar produktif,” tegas Melki.

Defisit Rp50 Triliun, Alarm Keras Ekonomi NTT

Melki mengungkapkan, defisit anggaran NTT yang mencapai sekitar Rp50 triliun merupakan sinyal serius bahwa struktur ekonomi daerah harus segera diubah.

“Defisit sebesar itu tidak sehat. Kita harus berani mengubah struktur ekonomi dari yang selama ini konsumtif menjadi produktif,” ujarnya.

Menurut Melki, persoalan utama NTT bukan kekurangan sumber daya, melainkan ketergantungan tinggi pada produk dari luar daerah.

Beli dari Luar, Memperkaya Daerah Lain

Ia mencontohkan pembelian pinang dari luar daerah yang mencapai sekitar Rp1 triliun, dengan Rp700 miliar di antaranya berasal dari Jambi.

“Kalau kita beli dari luar, sama saja kita membuat orang luar kaya. Padahal peluang itu bisa kita kembangkan sendiri di NTT,” kata Melki.

Kondisi ini, menurutnya, memperlihatkan bahwa NTT masih diposisikan sebagai pasar, bukan sebagai produsen yang berdaulat secara ekonomi.

Forkoma Diminta Jadi Motor Penggerak UMKM dan IKM

Dalam konteks inilah, Melki secara khusus menugaskan Forkoma PMKRI untuk berperan aktif dalam mencetak, mendampingi, dan mengonsolidasikan UMKM dan IKM NTT.

“Forkoma punya sumber daya manusia, jejaring alumni, dan pengalaman. Gunakan itu untuk menyiapkan UMKM dan IKM—dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi NTT tidak bisa hanya mengandalkan APBD atau pemerintah semata, tetapi membutuhkan kolaborasi kekuatan sipil dan intelektual, termasuk organisasi alumni.

OVOP–OCOP–OSOP dan NTT Mart

Sebagai strategi konkret, Melki mendorong penguatan konsep OVOP (One Village One Product), OCOP (One City One Product), dan OSOP (One State One Product) yang terintegrasi dengan NTT Mart sebagai etalase produk lokal.

“Kalau ada produk dari NTT, mengapa harus datangkan dari luar? UMKM dan IKM harus menjadi tulang punggung ekonomi kita,” tegasnya.

Ia menekankan, ekonomi kerakyatan harus nyata, produktif, inovatif, dan menghasilkan uang, bukan sekadar slogan.

Diaspora dan Kedaulatan Ekonomi

Melki juga menyoroti pentingnya peran diaspora NTT, baik sebagai investor, mentor, maupun penghubung pasar.

“NTT jangan hanya menjadi pasar. Kedaulatan ekonomi harus kita kembalikan ke NTT, dan itu dimulai dari UMKM dan IKM yang kuat,” katanya.

Forkoma Didorong Melahirkan Aksi Nyata

Retret Forkoma PMKRI Regio Timor, menurut Melki, harus menjadi titik awal lahirnya aksi konkret, bukan sekadar ruang refleksi.

“Saya ingin dari forum ini lahir UMKM-UMKM baru, industri kecil yang hidup, dan ekonomi rakyat yang bergerak,” ujarnya.

Dengan tantangan langsung dari Gubernur, Forkoma PMKRI kini dihadapkan pada peran strategis: mengubah gagasan menjadi usaha, dan retret menjadi gerakan ekonomi rakyat. Jika berhasil, NTT tak lagi sekadar pasar—tetapi bangkit sebagai daerah yang berdaulat secara ekonomi.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *