Kota Kupang,-Pemerintah Kota Kupang mencatat sejarah penting dalam dunia pelayanan publik dengan meluncurkan program Dana Pengaman Kesehatan, sebuah terobosan yang memungkinkan warga dalam kondisi gawat darurat mendapat layanan gratis di IGD RSUD S.K. Lerik, tanpa perlu menunjukkan kartu BPJS maupun dokumen identitas lainnya.
Program ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Kupang dalam acara Sosialisasi Dana Pengaman Kesehatan dan Simulasi Layanan Code Blue yang digelar di RSUD S.K. Lerik. Acara tersebut dihadiri oleh Ombudsman RI Perwakilan NTT, unsur Forkopimda, pejabat Pemkot Kupang, kepala OPD, tokoh agama dan masyarakat, insan media, hingga kader kesehatan.
“Kita hadirkan program ini agar tidak ada lagi warga Kupang yang kehilangan nyawa hanya karena soal administrasi. Cukup sudah era di mana pasien kritis ditahan di pintu IGD gara-gara belum bawa KK atau BPJS menunggak. Hari ini kita ubah sistemnya: nyawa dulu, administrasi kemudian,” tegas Wali Kota Kupang di podium, disambut tepuk tangan hadirin.
Dana Rp3 Miliar Disiapkan untuk Gawat Darurat Tanpa Administrasi
Program Dana Pengaman Kesehatan akan disokong dari pos Bantuan Tidak Terduga (BTT) APBD Kota Kupang, dengan alokasi awal Rp3 miliar per tahun. Dana ini akan digunakan khusus untuk pasien dalam kondisi kegawatdaruratan medis yang tidak memiliki jaminan kesehatan aktif atau dokumen kependudukan lengkap.
“Banyak warga datang ke rumah sakit dalam kondisi genting, tanpa kartu, tanpa identitas, atau BPJS yang sudah mati. Kita tidak punya waktu untuk tanya-tanya, kita harus segera selamatkan. Itu esensi pelayanan publik,” lanjut Wali Kota.
Apabila dana ini berkurang, Wali Kota berkomitmen akan menambah anggaran hingga tetap terjaga minimal Rp3 miliar per tahun, sebagai bentuk jaminan moral dan sosial bagi seluruh warga Kota Kupang.
RSUD S.K. Lerik Kini Menjadi Simbol Pelayanan Kemanusiaan
Momentum peresmian ini juga menjadi penanda ulang tahun ke-15 RSUD S.K. Lerik, rumah sakit milik daerah yang kini tengah berbenah menjadi pusat pelayanan unggulan.
“Saya yakin, entah di masa saya atau pemimpin berikutnya, rumah sakit ini akan menjadi yang terbaik di NTT. Karena kita sudah menanam benihnya hari ini: sistem yang adil, cepat, dan berpihak pada warga kecil,” ujar Wali Kota dengan mata berkaca-kaca.
Wali Kota Kupang Apresiasi “Pemain Film Handal” dan Peran Media
Dalam suasana penuh keakraban, Wali Kota juga memuji kreativitas tim medis RSUD yang menampilkan simulasi penanganan kegawatdaruratan dan Code Blue layaknya adegan film.
“Ternyata RSUD kita ini penuh aktor handal. Tadi saya lihat simulasi penanganan darurat—luar biasa. Terima kasih atas dedikasi dan semangatnya!”
Tak lupa, ia memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada insan pers dan media lokal, yang selama ini dinilai konsisten menyuarakan narasi-narasi positif dan optimis di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
“Tanpa media, program sebaik apa pun akan hilang di tengah hiruk-pikuk berita negatif. Teman-teman wartawan, kalian bukan hanya penulis berita—kalian adalah gendongan kita dalam perjalanan panjang ini. Bersama, kita bukan tetes air. Kita adalah samudra,” katanya, penuh makna.
Dari Ide yang Diremehkan, Menjadi Aksi yang Menginspirasi
Wali Kota juga mengungkapkan bahwa ide Dana Pengaman Kesehatan ini dulunya banyak ditertawakan dan dianggap tidak realistis. Namun kini, gagasan tersebut telah menjadi kenyataan.
Mengutip Mahatma Gandhi, ia berkata:
“Pertama mereka mengabaikanmu, lalu menertawakanmu, lalu melawanmu… dan akhirnya, kamu menang.”
Program yang Layak Diterapkan Secara Nasional
Langkah Pemerintah Kota Kupang ini dianggap sebagai praktik baik (best practice) yang layak direplikasi oleh pemerintah daerah lain di Indonesia. Ketika banyak daerah masih terjebak prosedur birokrasi dalam penanganan medis, Kupang telah melangkah lebih maju: mengedepankan kemanusiaan daripada syarat administratif.
“Kita Telah Memilih Berjalan Bersama”
Mengakhiri pidatonya, Wali Kota mengajak semua elemen untuk terus bergerak dalam satu irama, saling menopang di tengah segala keterbatasan.
“Kalau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Tapi jika ingin berjalan jauh, mari kita berjalan bersama. Dan hari ini kita membuktikan: Kota Kupang memilih berjalan bersama.”
Sebuah awal baru bagi sistem kesehatan Indonesia dimulai dari timur negeri ini. Kota Kupang menunjukkan bahwa dengan niat, kolaborasi, dan empati — pelayanan publik bisa benar-benar menyentuh hati rakyat.(Arnold).

Tinggalkan Balasan