“Jalan Dilepas, Rakyat Bijeli Menjerit”

Bijeli, Polen – Harapan besar disampaikan warga Desa Bijeli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, terhadap bupati yang akan terpilih di masa mendatang. YS dan Eduar Nenometa (41), warga RT 06 RW 03 Dusun 2, bersama istrinya YT, meluapkan kekecewaan mereka atas kondisi jalan yang dianggap “diabaikan” dari periode kepemimpinan satu bupati ke bupati lainnya.

Mereka menyoroti jalan lintas tengah, yang seharusnya menjadi akses vital bagi masyarakat, justru terabaikan hingga kini. “Dari bupati ke bupati, jalan ini dilepas begitu saja. Padahal, jalan ini penting untuk mobilitas warga dan aktivitas ekonomi,” ungkap Eduar.

Keluhan serupa sudah sering disampaikan, termasuk saat agenda reses anggota DPRD. Namun, jawaban yang diterima selalu sama, bahwa jalan tersebut merupakan jalan provinsi, sehingga tanggung jawab berada di bawah Pemerintah Provinsi NTT. Meski demikian, warga merasa pemerintah daerah seharusnya tidak hanya berdiam diri dan mengabaikan kondisi infrastruktur yang jelas-jelas memengaruhi kesejahteraan masyarakat.

Jalan Lintas Tengah, Urat Nadi yang Lumpuh

Jalan lintas tengah yang membelah wilayah tersebut memiliki peran strategis dalam menghubungkan beberapa desa dan dusun di Kecamatan Polen. Selain menjadi akses utama untuk distribusi hasil tani, jalan ini juga penting untuk mendukung layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat pedesaan.

Namun, kondisi jalan yang rusak parah dan berlubang di berbagai titik membuat warga harus berjuang keras setiap kali melewati rute tersebut. “Jalan ini sebenarnya menjadi penghubung utama, tetapi kami harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk perjalanan pendek. Ini sangat menyulitkan,” tambah Eduar.

Warga Desa Bijeli kini hanya bisa berharap agar pemimpin baru, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, dapat menaruh perhatian serius terhadap perbaikan jalan lintas tengah. Mereka mendesak agar infrastruktur ini menjadi prioritas dalam program pembangunan mendatang, mengingat pentingnya akses jalan untuk menunjang aktivitas masyarakat di wilayah terpencil.

“Jangan hanya berjanji saat kampanye, kami ingin tindakan nyata. Perbaikan jalan ini harus jadi prioritas. Kalau terus-menerus dibiarkan, siapa yang peduli dengan nasib kami di sini?” tutup Eduar dengan penuh harap.

Hal ini mencerminkan suara rakyat kecil yang menginginkan perubahan nyata di daerah mereka. Jalan lintas tengah bukan hanya sekadar akses, melainkan simbol penting perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat di pelosok negeri.

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *