Soe, – Akses vital masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, kini berada di ujung tanduk. Ruas jalan kabupaten yang melintasi wilayah Kefanan, Desa Bonle’u, Kecamatan Tobu, dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat longsor yang terus menggerus badan jalan sejak tahun 2025.
Kondisi terkini di lapangan memperlihatkan situasi yang semakin mengkhawatirkan. Sebagian badan jalan telah terkikis, menyisakan jalur sempit yang rawan ambles sewaktu-waktu, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Jika tidak segera ditangani, jalan ini dipastikan akan putus total—memutus akses utama warga dan melumpuhkan aktivitas ekonomi desa.
Kepala Desa Bonle’u, Yumeding Fobia, mengungkapkan bahwa pemerintah desa telah melaporkan kondisi darurat ini sejak Februari 2026 kepada Pemerintah Kabupaten TTS, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas PUPR.
“Kami sudah laporkan sejak 21 Februari. Tim dari BPBD dan PUPR memang sudah turun untuk survei dan pengukuran, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut nyata,” ungkapnya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, ancaman putusnya jalan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi menyangkut nasib ratusan warga yang bisa terisolasi tanpa akses alternatif.
Terlebih, jalur lain menuju wilayah tersebut melalui Noepesu, TTU, kerap terendam banjir saat musim hujan.
“Kalau jalan ini putus, masyarakat Bonle’u benar-benar terisolir. Tidak ada jalur lain yang bisa dilalui. Ini satu-satunya akses utama kami,” tegasnya.
Ironisnya, Desa Bonle’u bukan desa biasa. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengelolaan sumber air oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Soe. Namun kontribusi tersebut belum sebanding dengan perhatian infrastruktur yang diterima.
Warga kini hanya bisa berharap pemerintah daerah tidak berhenti pada tahap survei semata. Mereka mendesak adanya langkah darurat seperti pemasangan bronjong, penahan tebing, atau rekayasa jalan sementara untuk mencegah putus total sebelum penanganan permanen dilakukan.
Dengan puncak musim hujan yang semakin dekat, waktu menjadi faktor krusial. Keterlambatan penanganan bukan hanya berisiko pada akses jalan, tetapi juga keselamatan warga.
Jika tak segera ditangani, Bonle’u bukan hanya terancam terputus—tetapi juga terlupakan.

Tinggalkan Balasan