Kota Kupang,-Malam itu, lebih dari sekadar kota. Ia adalah saksi, diam-diam menyimpan rahasia gelap yang mengalir di antara lorong-lorong sunyi. Di balik senyum ramah warganya, ada seorang pria yang namanya kini berbisik di setiap sudut—Charles Ola Samon, sosok yang diburu, sekaligus dibenci.
Lahir di Malili, 20 Februari 1999, Charles bukanlah siapa-siapa di mata dunia. Namun, bagi mereka yang mengenalnya di jalanan, ia adalah nama besar. Rambut ikalnya, tubuh tegapnya, dan tato mencolok bertuliskan “Olla Samon” di dadanya menjadi ciri khas yang tak bisa dilupakan. Namun, pesona itu hanya menyembunyikan kegelapan yang mengalir di nadinya.
Di Kelurahan Oebobo, lalu TDM, dan Fatululi, ia bergerak seperti bayangan—nyaris tak terdeteksi. Transaksi demi transaksi terjadi tanpa suara, hanya isyarat dan tatapan penuh arti. Charles tahu cara bermain. Ia bukan pengedar biasa. Dengan kecermatan seorang dalang, ia mengatur jalannya perdagangan narkotika yang membelit generasi muda tanpa ampun.
Namun, permainan itu tidak berlangsung tanpa risiko. Pada 21 dan 22 November 2024, langkahnya mulai terpantau. Polisi mulai merangkai jejaknya, mengaitkan setiap pecahan informasi hingga satu nama muncul: Charles. Kini, ia bukan lagi bayangan yang tak terlihat. Ia adalah Daftar Pencarian Orang (DPO), nomor 02/XII/RES.0./2024, wajahnya tersebar di setiap sudut NTT.
Keberanian Charles perlahan terkikis. Tato kupu-kupu di lutut kirinya, mungkin dulu simbol kebebasan, kini seperti kutukan yang membatasi setiap langkahnya. Hidung mancungnya yang pernah menjadi kebanggaan kini tak lagi tegak menghadapi ancaman yang terus membayang.
Polisi, dipimpin oleh atasan penyidik, bergerak cepat. Dengan imbauan kepada masyarakat untuk melapor melalui nomor kontak yang tersebar, pengejaran tak lagi sekadar tugas, tetapi juga tanggung jawab moral. Di tengah sorotan publik, Charles berusaha bertahan, melarikan diri dari hukum, dan dari dirinya sendiri.
Namun, hukum memiliki cara untuk mengejar mereka yang mencoba melarikan diri. Dan bagi Charles, setiap lorong yang ia masuki, setiap sudut yang ia tinggali, bukan lagi tempat perlindungan, melainkan jebakan yang perlahan menutup.
Kupang, yang sunyi namun tak sepi, menunggu akhir dari kisah ini. Apakah Charles akan menghadapi keadilan atau tetap menjadi bayang-bayang yang tak tersentuh?
Waktu, seperti biasa, akan menjawab dengan dingin.( Arnold Fobia)

Tinggalkan Balasan