“Maut di Rahang Buaya Lembata”

Lembata – Sebuah tragedi memilukan mengguncang warga Desa Meluwiting, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Baharuddin Abdullah (41), seorang nelayan lokal, tewas mengenaskan setelah diserang seekor buaya ganas saat mencari ikan di perairan Rungun, Selasa (24/12/2024) dini hari.

Kejadian ini bermula ketika Baharuddin memutuskan untuk melaut ditemani istrinya, Maria Lidtina Boleng (38). Meski sempat menolak, Maria akhirnya ikut menemani suaminya menuju pantai. Namun, saat Baharuddin berada di air, suasana berubah mencekam. Seekor buaya besar tiba-tiba muncul dan langsung menerkam tubuhnya.

“Korban sempat berteriak meminta tolong, tetapi buaya dengan cepat menyeretnya ke tengah laut. Warga yang mendengar teriakan hanya bisa pasrah karena situasi gelap dan berbahaya,” ungkap Kapolsek Omesuri, Iptu I Made Sedanayasa, Jumat (27/12/2024).

Pencarian Dramatis di Tengah Kegelapan
Teriakan korban membangunkan warga sekitar yang langsung melakukan pencarian dengan alat seadanya. Pencarian berlangsung penuh ketegangan hingga akhirnya, sekitar pukul 04.00 WITA, tubuh Baharuddin ditemukan. Namun, saat ditemukan, tubuhnya masih berada dalam cengkeraman buaya.

“Warga berhasil mengambil tubuh korban dari buaya tersebut, tetapi kondisinya sudah tidak bernyawa. Kejadian ini sangat menyedihkan bagi kami semua,” tambah Sedanayasa.

Duka Mendalam Sang Istri
Maria mengaku sangat terpukul atas kepergian suaminya. Ia mengenang detik-detik sebelum kejadian, saat dirinya mencoba membujuk Baharuddin agar tidak melaut malam itu. “Saya sudah bilang jangan pergi, tapi dia tetap ingin. Saya tidak menyangka ini akan terjadi,” ucapnya dengan air mata tak terbendung.

Jenazah Baharuddin Abdullah telah dimakamkan di kampung halamannya, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan warga Desa Meluwiting.

Peringatan bagi Warga
Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi warga sekitar untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di perairan, terutama pada malam hari. Wilayah Lembata diketahui sebagai habitat alami buaya air asin yang dapat menyerang kapan saja tanpa peringatan.

Peristiwa tragis ini menggambarkan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam yang tak terduga. Warga kini berharap ada langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.(Arnold)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *