“Komodo Menggigit Lagi, Konflik Makin Tajam”

Pulau Rinca kembali menjadi sorotan setelah insiden tragis yang menimpa Hamra (74), seorang warga Dusun Kerora, Desa Pasir Panjang. Kamis (19/12/2024) petang, ia digigit komodo saat beristirahat di pondok kebunnya. Luka serius di kaki kirinya membuat Hamra harus mendapatkan 39 jahitan dan dirawat di RSUD Komodo, Labuan Bajo.

Peristiwa ini menambah panjang daftar konflik manusia dengan predator purba tersebut. Data menunjukkan, sejak 1974, sudah ada 36 kasus gigitan komodo, lima di antaranya berakhir fatal. Ironisnya, hanya dalam setahun terakhir, kasus ini telah berulang beberapa kali.

Ratna Wayang, warga yang digigit pada Oktober 2023, mengalami kejadian serupa saat menjemur ikan di depan rumah. Begitu pula Muhaimin dari Wae Rebo dan Romansyah di Pulau Komodo, yang masing-masing menjadi korban akibat interaksi tak terhindarkan dengan komodo.

Solusi yang Belum Tuntas

Kepala Balai Taman Nasional Komodo (TNK), Hendrikus Rani Siga, mengungkapkan bahwa pagar pembatas yang direncanakan di beberapa wilayah, termasuk Dusun Kerora, masih terbengkalai. Anggaran sebesar Rp3,2 miliar untuk pembangunan pagar di Kampung Komodo hanya menyelesaikan pondasi, setelah kontraktor mundur.

“Pagar itu seharusnya menjadi solusi untuk mengurangi konflik. Tapi hingga kini belum tuntas. Kami berharap Balai TNK segera menyelesaikannya,” ujar Doni Parera, Ketua LSM Insan Lantang Muda (ILMU).

Perubahan Perilaku Komodo, Tanda Bahaya?

Deputi WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga, menyebutkan ada indikasi perubahan perilaku komodo, terutama pascapembangunan “Jurassic Park” di Pulau Rinca. Selain itu, perburuan liar terhadap rusa—mangsa utama komodo—diduga menjadi faktor yang memengaruhi agresivitas hewan ini.

“Komodo adalah predator puncak yang sangat bergantung pada stabilitas ekosistem. Ketika habitat atau sumber makanannya terganggu, konflik seperti ini akan semakin sering terjadi,” jelasnya.

Populasi Stabil, Tapi Konflik Mengintai

Meski populasi komodo di TNK dilaporkan stabil dengan jumlah 3.396 ekor pada 2023, tekanan aktivitas manusia dan pariwisata semakin mempersempit ruang jelajah mereka. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Balai TNK dalam menjaga keseimbangan antara konservasi dan kebutuhan masyarakat lokal.

Belajar Hidup Berdampingan

Insiden yang menimpa Hamra menjadi pengingat bahwa manusia harus belajar hidup berdampingan dengan satwa liar. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah nyata, baik melalui edukasi masyarakat, penyelesaian infrastruktur pengaman, hingga penegakan hukum terhadap perburuan liar.

Komodo adalah aset dunia yang harus dilestarikan. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, keseimbangan ini bisa berubah menjadi ancaman nyata, baik bagi manusia maupun kelangsungan hidup satwa purba ini.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *