KUB Antara Bank DKI dan Bank NTT Merupakan Salah Satu Strategi Pemenuhan MIM

PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berproses melakukan upaya pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) dengan pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB).Hal tersebut disampaikan Plt. Direktur Utama Bank NTT Yohanis Landu Praing saat confrence Media Mitra di Aula Utama Bank NTT,Senin tanggal 10 Juni 2024.

Pasalnya,KUB merupakan salah satu upaya pemenuhan modal inti minimum yang di lakukan oleh Bank NTT.

Plt Direktur Utama mengatakan strategi KUB ini telah disampaikan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) sejak tahun buku 2023 yang telah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan serta Para Pemegang Saham.

Dikatakan,tindaklanjut keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan dan RUPS Luar Biasa (RUPS LB) pada tanggal 8 Mei 2024 yang mana telah menyetujui rencana pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) antara Bank DKI dengan Bank NTT.

Menurut Praing,sejak awal tahun 2024 Bank NTT dan Bank DKI terus melakukan koordinasi untuk percepatan pembentukan KUB.

Karena itu pada tanggal 20-21 Mei,kata Praing,telah dilakukan pertemuan konsinyering antara Bank DKI dengan Bank NTT dalam rangka pembentukan KUB.

Ia menjelaskan berdasarkan timeline pada bulan Juni telah memasuki tahapan due diligence yang dimulai dengan dilakukannya kick off secara Zoom Meeting pada tanggal 06 Juni 2024 dihadiri oleh Bank DKI, Bank NTT dengan konsultan pendamping yang telah dipilih oleh Bank DKI untuk melakukan proses due diligence KLUB yaitu PT. Kinarya Lima Capital sebagai Konsultan Financial Adivisor, Akuntan dan Pajak serta Limbra Lawfirm sebagai konsultan hukum Proses due diligence merupakan tahapan terkait penilaian kelayakan Bank NTT untuk ber-KUB dengan Bank DKI.

Untuk selanjutnya kata Dia, hasil due diligence tersebut akan diajukan kepada Pemegang Saham Pengendall (PSP) Bank DKI, yang apabila disetujui selanjutnya akan dilakukan valuasi saham serta penyertaan Modal.

Seperti diketahui, berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK 03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum yang mengatur bahwa kewajiban Bank Umum untuk pemenuhan modal inti minimum Rp. 3 triliun paling lambat 31 Desember 2024 atau minimum memiliki Rp.1 triliun sepanjang BPD tersebut tergabung menjadi anggota dari Kelompok Usaha Bank (KUB), dimana apabila tidak terpenuhi maka BPD tersebut wajib menyesuaikan bentuk usahanya menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Dijelaskan, bahwa sesuai batas waktu kewajiban pemenuhan MIM dimaksud kurang lebih tersisa 6 bulan lagi, dengan demikian antara Bank DKI dan Bank NTT telah melakukan akselerasi proses pembentukan KUB melalui komunikasi dan koordinasi secara intens termasuk penyelarasan time line.

Plt Dirut menjelaskan bahwa berdasarkan time line pada bulan November 2024 diharapkan telah sampai pada tahap persetujuan Otoritas Jasa Keuangan

Ia menambahkan bahwa Bank DKI merupakan salah satu Bank BPD yang memiliki aset terbesar dan ditunjuk oleh Otoritas jasa keuangan untuk dapat menjadi Induk KUB terhadap BPD lainnya yang belum memenuhi persyaratan Modal Inti Minumum (MIM).

Pada posisi Desember 2023 lanjut Praing,Bank DKI telah memiliki total Aset Rp.83 Triliun dan Modal inti Rp. 10 triliun dengan komposisi Modal Disetor tercatat sebesar Rp. 6,58 trillun.

Dikatakan bahwa Bank DKI dapat memiliki Tingkat Kesehatan Bank & Tata Kelola Perusahaan yang baik dan stabil.

Hal ini menunjukan bahwa Bank DKI memiliki bisnis model serta tata kelola lebih baik yang dapat dibagikan kepada Bank NTT sebagai anggota KUB melalui sinergi dan kolaborasi selain penyertaan modal Sinergi dan kolaboras dapat dilakukan pada bidang Kredit, Jaringan dan Layanan, Bidang Manajemen Risiko & Tatakelola Budang SDM Bidang Teknologi Informasi dan Bidang Treasury yang perlu didahului dengan analisis cost und benefit Sinergi dan kolaborasi ini akan meningkatkan daya saing untuk perbaikan kinerja keuangan, tata kelola serta kualitas pelayanan kepada masyarakat NTT dan mendorong pembangunan daerah terutama pemberdayaan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Praing menuturkan bahwa proses berKUB antara Bank DKI dan Bank NTT ini menjadi perhatian bersama Otoritas Jasa Keuangan den Pemerintah Daerah sebagai Pemegang Saham.

“Secara berkala kami menyampaikan perkembangan setiap tahapan kepada Kepala OJK NTT dan Pj. Gubernur Nusa Tenggara Timur selaku Pemegang Saham Pengendali,”ujar Praing.

Plt Dirut Yohanis Laandu Praing hadir didampingi Direktur Dana sekaligus Plt Direktur Kredit Bank NTT, Hilarius Minggu dan Direktur Kepatuhan Bank NTT, Christofel Adoe.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *