Kupang, -Di sudut-sudut ruang PAUD yang biasanya dipenuhi nyanyian alfabet dan warna-warni kertas lipat, sebuah peristiwa besar ditulis dengan lembut: Halal Bihalal antar guru lintas iman. Dalam balutan sederhana, terselip makna mendalam—tentang bagaimana toleransi tidak lahir dari panggung megah, melainkan dari hati-hati yang tulus mengabdi.
Ketua panitia kegiatan, Yanti Sinlae, S.Pd., AUD, menyampaikan bahwa acara ini bukan sekadar silaturahmi pasca-Lebaran, tetapi sebuah gerakan kebudayaan. Moto yang mereka usung “Memaafkan dan Menjalin Toleransi di Antara Guru PAUD” menjadi semboyan yang menyala di tengah realita yang kadang redup oleh prasangka.
“Guru PAUD adalah penjaga lentera. Di tangan kami, karakter dan nilai anak-anak dibentuk, dan toleransi bukan hanya diajarkan, tapi dicontohkan,” ujar Yanti dengan suara penuh keyakinan.
Wali Kota Kupang turut hadir, menjadi saksi bahwa dari ruang-ruang kecil inilah kota ini sedang merajut masa depan besar. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menjadikan program lintas iman sebagai agenda rutin tahunan—bukan hanya untuk Paskah dan Idul Fitri, tetapi juga untuk Natal, Waisak, dan Tahun Baru.
Halal Bihalal ini menjadi seperti orkestra tanpa alat musik: hanya kehangatan, pelukan, dan senyum yang berpadu menjadi simfoni. Guru-guru lintas iman, yang sehari-hari sibuk membimbing tangan mungil menulis huruf, kini menulis narasi damai dengan tindakan nyata.
Mereka adalah akar dari pohon besar bernama Kupang. Pohon yang ingin tumbuh sebagai simbol toleransi, menjulang dengan cabang keberagaman, dan menaungi siapa pun yang berteduh di bawahnya.
Kupang tak hanya sedang membangun kota—ia sedang membangun jiwa. Dan para guru PAUD adalah para arsitek senyap yang menganyam toleransi dari ruang kelas, menjadikannya cahaya yang pelan-pelan menyinari seluruh penjuru kota.
Kalau mau diubah jadi bentuk lain (naskah pidato, caption medsos, siaran pers), tinggal bilang.

Tinggalkan Balasan