Kupang,– Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah bersiap melakukan revolusi hijau. Di bawah kepemimpinan Wali Kota dr. Christian Widodo, Kota Kupang resmi dibidik oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup untuk menjadi role model atau percontohan sistem pengelolaan sampah modern bagi wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Kepastian ini mengemuka dalam audiensi antara Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Haruki Agustina, dengan Wali Kota Kupang di ruang kerja Wali Kota, Rabu (8/4). Dukungan ini bukan sekadar wacana, melainkan respon atas progres signifikan Kota Kupang yang berhasil mendongkrak skor pengelolaan sampahnya dari 41,93 ke angka 50,8.
Ambisi “Zero Waste”: Bukan Sekadar Pindah Sampah
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Haruki Agustina, memberikan tantangan besar bagi Kupang. Ia mendorong kenaikan skor hingga 15 poin, jauh melampaui target minimal nasional.
”Saya melihat komitmen kuat di sini. Kupang harus menjadi wajah perubahan. Jika satu kota di NTT berhasil menjadi contoh nyata, maka daerah lain akan mengikuti. Kami siap memberikan pendampingan penuh,” tegas Haruki.
Menjawab tantangan tersebut, Wali Kota Christian Widodo memaparkan roadmap ambisius dari hulu ke hilir. Dengan produksi sampah mencapai 267 ton per hari, dr. Christian menegaskan bahwa sistem lama “angkut-buang” sudah harus ditinggalkan.
”Kami tidak mau lagi hanya memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain.
Strategi kami adalah pengolahan berbasis wilayah di tiap kecamatan. Targetnya, hanya 15 persen residu yang masuk ke TPA,” jelas Wali Kota Christian.
Untuk mewujudkan target tersebut, Pemkot Kupang telah menyiapkan sejumlah langkah taktis:
Pilot Project Terpadu: Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis kecamatan.
Kolaborasi Energi: Menggandeng BUMN seperti Pertamina dan PLN untuk mengolah sampah menjadi sumber energi bernilai ekonomi.
Insentif Rp1 Miliar: Menggelar lomba kebersihan antar kelurahan guna memacu semangat kompetisi positif di tingkat akar rumput.
Penguatan Satgas: Optimalisasi Satgas Penanganan Sampah dan pengaturan jam buang sampah yang lebih disiplin.
Meski infrastruktur disiapkan, dr. Christian mengakui tantangan terberat adalah perubahan perilaku masyarakat. Edukasi kini tidak lagi hanya dilakukan oleh dinas terkait, namun mulai menyentuh sekolah, rumah ibadah, hingga melibatkan tenaga penyuluh lintas sektor seperti BKKBN dan tenaga kesehatan.
”Mengubah kebiasaan itu tidak mudah, tapi kami mulai dari nol. Edukasi pemilahan sampah dari sumber (rumah tangga) adalah kunci keberlanjutan program ini,” tambahnya.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat melalui penguatan kapasitas SDM dan dorongan CSR sektor swasta, Kota Kupang kini berada di jalur cepat untuk bertransformasi dari kota yang sedang berbenah menjadi pionir kebersihan di Indonesia Timur.

Tinggalkan Balasan