TTS,-Desa Nunleu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten TTS, kini menjadi saksi bisu atas sebuah proyek gagal yang telah menyedot anggaran Rp3,9 miliar sejak 2022. Sejak tahun lalu, warga setempat menantikan janji manis air bersih yang seharusnya mengalir ke rumah mereka, namun kenyataan yang diterima jauh dari harapan. Air tak kunjung mengalir, dan yang mereka dapatkan hanyalah selang yang tergeletak di depan rumah tanpa fungsi.
Apakah ini yang disebut dengan pengelolaan dana yang tepat? Atau ini sekadar permainan dana besar yang hanya menguntungkan segelintir pihak? Inilah yang dipertanyakan oleh warga Desa Nunleu, seperti Marta Luki, Joana Neno, dan Daniel Titaley, yang merasa ditipu oleh janji pemerintah dan pelaksana proyek.
“Proyek ini sudah setahun lebih berjalan, tapi sampai sekarang kami tak menikmati air. Kami hanya melihat meteran dan selang yang entah kapan bisa dipakai. Di mana tanggung jawab pemerintah dan pihak yang menangani proyek ini?” ujar Marta Luki dengan nada penuh kemarahan.
Joana Neno bahkan bertanya dengan penuh penyesalan, “Kami sudah berharap selama setahun, tapi air yang dijanjikan tidak kunjung datang. Mana hasilnya? Dana yang begitu besar tapi hanya menyisakan tumpukan selang yang tidak jelas gunanya.”
Sementara itu, Daniel Titaley menambahkan, “Kami merasa seperti warga kelas dua yang hanya dijanjikan hal-hal kosong. Proyek air bersih ini seharusnya bisa melayani seluruh desa, tapi kenyataannya hanya Dusun 1 dan Dusun 3 yang kebagian, itu pun airnya tak mengalir. Kenapa Dusun 2 tidak dilayani, padahal desa ini satu kesatuan?”
Tanggapan dari Monny Jami, fasilitator dari Dinas PUPR TTS, yang sempat memberikan penjelasan teknis, tidak mampu meredakan amarah warga. Pompa yang rusak sudah dikirim ke provinsi untuk diperbaiki, tapi sudah lebih dari setahun, belum ada kejelasan kapan perbaikan selesai. Apakah ini standar kerja yang bisa diterima? Atau hanya taktik untuk menunda-nunda?
Benyamin Misa, pekerja proyek yang terlibat langsung, mencoba memberi penjelasan. Namun, meski 245 Sambungan Rumah (SR) telah ditambah pada tahun 2023 untuk mencakup seluruh desa, masalah teknis tetap menghambat. “Kami akan segera perbaiki pompa yang rusak, namun cuaca buruk dan medan yang sulit menyebabkan penundaan,” katanya. Tapi warga tetap bertanya, “Kenapa perbaikan bisa tertunda begitu lama? Bagaimana mungkin proyek Rp3,9 miliar tak bisa diselesaikan dengan cepat?”
Pihak pemerintah daerah dan provinsi seolah hanya memberikan alasan demi alasan, sementara warga terus menunggu air yang tak kunjung mengalir. Mereka tak lagi percaya pada janji-janji kosong. “Kami tidak ingin alasan lagi, kami ingin air mengalir! Kami ingin ada kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak yang mengelola dana ratusan juta itu!” desak Marta Luki.
Apakah proyek air bersih yang dianggarkan Rp3,9 miliar ini hanya akan menjadi ilusi bagi warga Desa Nunleu? Atau akan ada perubahan yang nyata dan pemerintah serta pihak terkait akan memenuhi janji mereka untuk memberikan hak dasar rakyat: air bersih? Warga Desa Nunleu sudah terlalu lama menunggu, mereka pantas mendapatkan jawaban yang pasti dan tindakan nyata! (ft /Tim)

Tinggalkan Balasan