Fatumnutu, – Insiden tak terduga terjadi di UPT Puskesmas Fatumnutu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, saat seorang pasien bernama Empi S. Boko mengamuk dan melontarkan kata-kata kasar kepada tenaga medis yang bertugas, termasuk Kepala UPT Puskesmas. Kejadian ini bermula pada 16 Maret 2025, ketika Empi datang ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan akibat kecelakaan yang dialaminya. Namun, bukannya menerima pelayanan dengan baik, ia justru meruak dan mengamuk dalam kondisi mabuk.
Dalam kondisi yang tak terkendali, Empi memaki-maki tenaga medis yang sedang bertugas. Bahkan, situasi semakin memanas hingga membuat pelayanan terpaksa dihentikan demi keselamatan petugas dan pasien lain yang ada di puskesmas.
Keluarga yang mendampingi Empi kemudian memutuskan untuk membawanya ke Puskesmas Tobu untuk mendapatkan perawatan. Namun, sebelum keberangkatan, terjadi adu mulut antara Empi dengan tenaga kesehatan serta masyarakat sekitar yang menyaksikan insiden tersebut. Kericuhan ini mencerminkan masalah serius dalam dunia kesehatan, di mana tenaga medis yang seharusnya dihormati justru menjadi korban caci maki dan perlakuan tidak pantas dari pasien yang tidak bertanggung jawab.
Merasa terpukul dan kecewa atas perlakuan tersebut, Kepala UPT Puskesmas Fatumnutu segera mengambil langkah tegas dengan melaporkan kejadian ini kepada Kepala Desa. Dalam pertemuan yang digelar pada 20 Maret 2025 di aula puskesmas Fatumnutu, Kapus menegaskan bahwa tenaga kesehatan harus mendapatkan penghormatan dan perlindungan dalam menjalankan tugas mereka.

“Saya sudah bertahun-tahun menjadi Kapus, dan kejadian ini sangat melukai hati kami sebagai tenaga medis. Kami bekerja untuk masyarakat, memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Namun, jika kami terus-menerus mendapatkan perlakuan seperti ini, siapa yang akan mau mengabdi di sini?” ujar Kepala Puskesmas Fatumnutu dengan nada kecewa.
Keputusan Tegas: Pernyataan Tertulis dan Jaminan Keamanan
Dalam pertemuan tersebut, Empi bersama keluarganya akhirnya menerima keputusan dan menandatangani surat pernyataan di atas meterai di hadapan berbagai pihak, termasuk Kapus, Babinsa, tokoh masyarakat, dan keluarga. Isi keputusan tersebut mencakup dua poin utama:
Empi berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan bersedia mempublikasikan surat pernyataan permintaan maafnya di media sosial serta media cetak sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Empi harus menjamin keamanan seluruh tenaga medis yang melaksanakan tugasnya melewati jalur Bestobe, demi memastikan insiden serupa tidak terjadi di kemudian hari.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih menghargai tenaga medis yang telah mengabdikan diri dalam pelayanan kesehatan.
Hormati Tenaga Medis, Stop Kekerasan di Fasilitas Kesehatan
Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa tenaga kesehatan masih kerap menjadi sasaran amukan pasien, terutama mereka yang dalam kondisi mabuk atau tidak stabil. Padahal, para nakes adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Tanpa tenaga medis, siapa yang akan menangani kondisi darurat di wilayah pedalaman seperti Fatumnutu
Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan turut serta dalam memberikan perlindungan bagi tenaga medis agar kejadian serupa tidak terulang.
Masyarakat juga diminta untuk lebih menghormati dan menghargai tenaga kesehatan yang bekerja tanpa mengenal lelah demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Puskesmas bukan tempat untuk mengamuk, memaki, atau melakukan kekerasan. Jika tidak ada tenaga medis yang bertugas karena merasa tidak aman, maka yang akan dirugikan adalah masyarakat itu sendiri. Saatnya kita sadar dan menghormati mereka yang telah mengabdi untuk kesehatan kita!(Arnold)

Tinggalkan Balasan