Yusinta Ningsih Nenobahan: Sentuhan Seorang Ibu di Tengah Derita Korban Bencana Kuatae

Soe, -Bencana bukan sekadar peristiwa alam yang merusak rumah dan harta benda. Ia adalah badai yang merobek hati, meninggalkan luka yang tak mudah disembuhkan. Tangis anak-anak yang kehilangan tempat bermain, wajah-wajah letih para ibu yang kebingungan menghadapi hari esok, dan tatapan kosong para lansia yang kehilangan pegangan hidup—semuanya berkumpul dalam satu titik kegetiran di GOR Nekamese, Timor Tengah Selatan.

Di tengah situasi itu, hadir seorang perempuan dengan hati sebesar samudra. Yusinta Ningsih Nenobahan, pemilik Yayasan Yusinta Ningsih Nenobahan (YNS), bukan hanya sekadar datang membawa bantuan. Ia datang dengan sesuatu yang lebih berharga: empati, kasih sayang, dan ketulusan yang sulit dijumpai dalam dinamika bantuan kemanusiaan yang sering kali hanya bersandar pada angka dan statistik.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Kemanusiaan

Pagi itu, di bawah langit mendung yang seakan ikut berduka, Yusinta melangkah masuk ke GOR Nekamese. Tangannya membawa kantong berisi sembako, susu, popok bayi, mie instan, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Namun, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar barang yang ia bawa—ia membawa harapan.

Bagi para korban bencana, menerima bantuan bukan hanya soal bertahan hidup. Ini adalah pengakuan bahwa mereka masih ada, bahwa penderitaan mereka tak diabaikan, dan bahwa masih ada tangan-tangan yang ingin merangkul mereka dalam hangatnya kepedulian. Dan Yusinta memahami hal itu dengan sangat baik.

Ia tidak hanya membagikan bantuan lalu pergi. Ia duduk bersama para ibu yang masih berusaha memahami kenyataan pahit yang menimpa mereka. Ia mendengar keluhan mereka, melihat air mata yang mereka coba sembunyikan, dan menggenggam tangan mereka seolah berkata, “Kalian tidak sendiri.”

Dekapan Seorang Ibu untuk Anak-Anak yang Kehilangan Senyum

Di sudut pengungsian, seorang anak berusia empat tahun terduduk di pangkuan ibunya. Matanya kosong, tubuhnya lemah. Sejak rumah mereka hanyut diterjang banjir, bocah itu nyaris tak bersuara. Trauma telah merampas tawa masa kecilnya. Yusinta perlahan mendekat, lalu mengusap lembut rambut anak itu. Dengan suara penuh kehangatan, ia mencoba berbicara, mengajak bermain, menawarkan sepotong biskuit yang ia bawa.

Butuh waktu, tapi perlahan anak itu mulai menatapnya. Ada sesuatu dalam cara Yusinta berbicara—bukan paksaan, bukan basa-basi, melainkan ketulusan seorang ibu yang memahami bagaimana luka itu bisa menggerogoti jiwa seorang anak.

Tak lama,Yusinta ngobrol santai dan bermain bersama anak – anak seolah mereka akrab meski terlihat Senyum anak- anak masih samar, tetapi bagi Yusinta, itu lebih dari cukup. Itu adalah bukti bahwa harapan belum benar-benar mati.

Bencana sering kali mengajarkan dua hal: betapa rapuhnya kehidupan, dan betapa kuatnya hati manusia yang saling menopang. Di antara banyaknya bantuan yang datang dan pergi, ada satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang—kehadiran yang tulus, sentuhan yang menyembuhkan.

Yusinta Ningsih Nenobahan tidak hanya hadir sebagai seorang dermawan yang menyalurkan bantuan. Ia hadir sebagai seorang ibu bagi anak-anak yang kehilangan rumah, sebagai saudara bagi para ibu yang berjuang sendiri, dan sebagai teman bagi mereka yang hampir kehilangan harapan.

Di GOR Nekamese, hari ini bukan hanya tentang bantuan yang dibagikan. Ini tentang kehangatan yang dibawa. Tentang pesan bahwa di balik reruntuhan, masih ada tangan-tangan yang siap membangun kembali. Tentang harapan yang meski kecil, tetap menyala dalam gelapnya ujian hidup.

Karena pada akhirnya, kemanusiaan bukan soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa dalam kita peduli. Dan Yusinta telah membuktikan bahwa kepedulian sejati adalah ketika kita bukan hanya memberi, tetapi juga hadir, merasakan, dan berbagi duka sebagai bagian dari keluarga besar kemanusiaan.(Arnold)

 

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *