KEFAMENANU, — Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terus mematangkan persiapan pelaksanaan Pasar Perbatasan PLBN Napan sebagai langkah strategis membuka akses pasar sekaligus memperkuat hubungan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia dan Timor-Leste.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi pemantapan yang berlangsung di Kabupaten TTU, Jumat (7/8/2026). Rapat dipimpin Asisten I Setda TTU, Drs. Kristoforus Ukat, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari kedua wilayah perbatasan.
Staf Khusus Bupati TTU Bidang Ekonomi dan UMKM, H. Fahmi H. Abdullahi, SE, mengatakan, rapat tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan Pasar Perbatasan PLBN Napan berjalan secara terkoordinasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pertemuan itu dihadiri Staf Khusus Bupati TTU Bidang Humas Antar Lembaga dan Investasi, Elias Koa, Kepala PLBN Napan Dongaspar Ukat, Camat Bikomi Utara, Plt. Kepala BPPD TTU, Plh. Kepala Dinas PMD TTU, Kabag Ekonomi Setda TTU, Ketua Panitia Pasar Perbatasan, perwakilan UMKM TTU, HIPMI TTU, serta pihak perbankan, termasuk BRI.
Koordinasi juga melibatkan unsur dari wilayah RAEOA/Oecusse, Timor-Leste, antara lain Administrator Oesilo, Komandan Imigrasi Bobometo, dan Kepala Bea Cukai Oecusse.
Menurut Fahmi, keterlibatan kedua pihak menunjukkan bahwa Pasar Perbatasan PLBN Napan tidak dirancang semata-mata sebagai kegiatan perdagangan, tetapi sebagai ruang bersama untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara masyarakat di kedua sisi perbatasan.
“Pasar Perbatasan PLBN Napan bukan hanya tempat transaksi ekonomi. Ini juga menjadi ruang silaturahmi, temu kangen, bahkan reuni keluarga masyarakat perbatasan Indonesia dan Timor-Leste,” ujar Fahmi.
Fahmi yang juga CEO Jabal Group dan Wakil Ketua APINDO NTT itu menjelaskan, masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Oecusse selama ini memiliki hubungan sosial yang sangat erat.
Ikatan tersebut tidak hanya terbentuk melalui aktivitas ekonomi, tetapi juga melalui hubungan kekerabatan, perkawinan, kesamaan budaya dan rumpun keluarga yang telah berlangsung lintas generasi.
Karena itu, keberadaan Pasar Perbatasan PLBN Napan diharapkan menjadi momentum untuk mempertemukan kembali masyarakat dari kedua sisi perbatasan dalam suasana yang produktif dan bersahabat.
“Masyarakat dari kedua negara tetangga harus melihat Pasar Perbatasan PLBN Napan tidak hanya sebagai kegiatan perdagangan, tetapi juga sebagai ruang silaturahmi masyarakat perbatasan Indonesia dan Timor-Leste,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan kawasan perbatasan.
UMKM TTU dan Oecusse Dipertemukan dalam Satu Ruang Ekonomi
Selain menjadi ruang interaksi sosial, Pasar Perbatasan PLBN Napan diarahkan menjadi wadah promosi dan pemasaran produk unggulan UMKM dari kedua wilayah.
Pelaku UMKM TTU nantinya memiliki kesempatan memperkenalkan sekaligus memasarkan produk lokal kepada masyarakat Timor-Leste. Sebaliknya, pelaku usaha dari Oecusse juga memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen di wilayah Indonesia.
Model tersebut diharapkan mampu memperluas pasar produk lokal, meningkatkan aktivitas perdagangan, membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong peningkatan pendapatan masyarakat.
Dengan demikian, pasar perbatasan tidak berhenti pada aktivitas jual beli, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang tumbuh dari masyarakat perbatasan.
TTU Dorong Ekosistem Ekonomi Baru di Kawasan Perbatasan
Pemerintah Kabupaten TTU bersama para pemangku kepentingan memandang Pasar Perbatasan PLBN Napan sebagai salah satu instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan.
Keterlibatan pemerintah daerah, PLBN, UMKM, HIPMI, perbankan, Imigrasi, Bea Cukai dan unsur pemerintah Oecusse menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola kegiatan yang lebih terintegrasi.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menjadikan Pasar Perbatasan PLBN Napan sebagai agenda ekonomi masyarakat yang dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Ujungnya adalah bagaimana aktivitas di pasar perbatasan ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua wilayah. Batas negara tetap menjadi batas kedaulatan, tetapi ekonomi dan hubungan kemanusiaan masyarakat perbatasan dapat terus tumbuh dan saling memberikan manfaat,” tegas Fahmi.
Launching Dijadwalkan 14 Agustus 2026
Sebagai langkah awal, uji coba Pasar Perbatasan PLBN Napan direncanakan dilaksanakan pada 14 Agustus 2026.
Launching tersebut akan dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan, di antaranya parade drumband, pengibaran Bendera Merah Putih berukuran besar di puncak PLBN Napan, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Pasar Perbatasan PLBN Napan.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan Pasar Perbatasan Napan sebagai ruang baru bagi aktivitas ekonomi, sosial dan budaya masyarakat perbatasan.
Pemerintah Kabupaten TTU berharap pasar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, Pasar Perbatasan PLBN Napan diharapkan menjadi embrio pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menangkap peluang pergerakan masyarakat dan aktivitas perdagangan lintas batas secara produktif.
Dari kawasan perbatasan, TTU ingin membangun pesan bahwa wilayah yang menjadi halaman depan negara juga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Dengan semangat “Dari Perbatasan untuk Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan”, Pasar Perbatasan PLBN Napan diharapkan menjadi contoh bahwa kawasan perbatasan bukan hanya simbol kedaulatan negara, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuhnya ekonomi, persaudaraan, budaya dan kemanusiaan antara masyarakat Indonesia dan Timor-Leste.
“Kita ingin perbatasan bukan hanya menjadi batas negara, tetapi menjadi titik temu yang menghadirkan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat,” pungkas Fahmi.

Tinggalkan Balasan