Kupang,– Gebrakan besar datang dari dunia pendidikan tinggi di Indonesia Timur. Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi menerapkan sistem kerja Work From Home (WFH) dan pembelajaran daring setiap hari Jumat, mulai 13 April 2026.
Kebijakan ini menjadi langkah strategis kampus dalam menjawab arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait efisiensi dan efektivitas kinerja perguruan tinggi, tanpa mengorbankan kualitas layanan akademik.
Sistem Baru: 4 Hari Kantor, 1 Hari dari Rumah
Dalam skema baru ini, seluruh dosen dan tenaga kependidikan tetap bekerja dari kantor (WFO) selama empat hari, yakni Senin hingga Kamis dengan kehadiran penuh. Sementara itu, hari Jumat ditetapkan sebagai hari kerja fleksibel dari rumah.
Meski bekerja dari rumah, aktivitas tetap berjalan ketat dan terukur. Pegawai diwajibkan siaga secara digital, mengikuti rapat virtual rutin, serta melakukan presensi melalui sistem aplikasi kampus.
Kuliah Online, Tapi Tetap Fleksibel
Tak hanya sistem kerja, kegiatan akademik juga ikut bertransformasi. Setiap Jumat, perkuliahan dialihkan ke sistem daring melalui platform digital kampus.
Namun, Undana tetap memberi ruang bagi kegiatan yang membutuhkan kehadiran fisik seperti praktikum, laboratorium, hingga sidang akhir mahasiswa.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk adaptasi nyata terhadap era digital, sekaligus mengurangi kepadatan aktivitas di lingkungan kampus.
Hemat Energi, Pangkas Perjalanan Dinas
Tak berhenti di sana, Undana juga memperketat kebijakan efisiensi energi. Penggunaan AC dibatasi minimal 25 derajat Celsius, penggunaan listrik ditekan, hingga pembatasan kendaraan dinas.
Mulai Mei 2026, kampus juga akan:
Mengurangi perjalanan dinas dalam negeri hingga 50 persen
Memangkas perjalanan luar negeri sebesar 70 persen
Menurunkan kuota BBM kendaraan dinas sebesar 20 persen
Menuju Kampus Digital dan Berkelanjutan
Kebijakan ini menandai transformasi besar Undana menuju kampus yang lebih modern, adaptif, dan ramah lingkungan.
Dengan kombinasi kerja hybrid dan digitalisasi layanan, Undana tak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga membangun budaya kerja baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Langkah berani ini berpotensi menjadi role model bagi perguruan tinggi lain di Indonesia—bahwa kampus daerah pun mampu memimpin inovasi di tingkat nasional.

Tinggalkan Balasan