“Surat Air Mata Putri Buruh Tani: Dicoret dari Paskibraka TTS Tanpa Alasan, Mimpi Gresyani Putus di Tengah Jalan”

Soe,– Sebuah surat terbuka yang menyayat hati dari seorang siswi SMA Kristen 1 Soe, Gresyani Imelda Tenistuan, mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Gresyani, yang merupakan putri dari seorang Ibu Rumah Tangga biasa, mengungkapkan kepedihannya setelah didepak secara sepihak dari barisan calon Paskibraka Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) 2026.

Padahal, Gresyani telah melewati seluruh rangkaian seleksi yang menguras keringat dan air mata, mulai dari administrasi hingga tahapan akhir dengan status “Lolos”.

Lolos Semua Tahapan, Gugur karena ‘Perintah’

Dalam curahan hatinya yang ditujukan kepada Bupati dan Wakil Bupati TTS, Gresyani menceritakan bagaimana ia telah berlatih selama berbulan-bulan di sekolah bahkan sebelum seleksi dimulai. Namun, saat impiannya hampir terwujud, sebuah instruksi mendadak memaksanya pulang tanpa alasan yang jelas.

“Hari di mana semua harapan itu seketika hilang hanya dengan perintah bertemu Kaban (Kepala Badan). Saya diminta untuk pulang tanpa sebab, tanpa akibat,” tulis Gresyani.

Kehilangan Hak karena ‘Bukan Anak Pejabat’?

Gresyani secara jujur mengakui bahwa dirinya bukanlah anak dari kalangan elit atau pejabat. Namun, ia mempertanyakan apakah latar belakang ekonominya menjadi alasan haknya sebagai anak bangsa dirampas.

“Tangisan dan air mata saya mungkin biasa bagi anak seorang ibu rumah tangga yang gagal karena haknya dihilangkan. Mungkin juga saya tidak pantas karena hanya seorang anak dari orang tua biasa yang tidak mampu,” lanjutnya dalam surat yang terhenti karena rasa sesak yang tak terbendung.

DPRD dan Kesbangpol Bungkam

Perjuangan Gresyani tidak berhenti di lapangan latihan. Didampingi ibundanya, ia sempat mengadu ke DPRD TTS dan bertemu dengan pihak Kesbangpol TTS. Namun, hingga berita ini diturunkan, tidak ada solusi konkret maupun penjelasan logis mengapa namanya dicoret meski telah dinyatakan lolos semua tahapan resmi.

Mengetuk Pintu Keadilan

Kasus ini memicu gelombang simpati dari netizen. Banyak yang mendesak Pemerintah Kabupaten TTS untuk transparan dalam proses rekrutmen Paskibraka agar kejadian yang menimpa Gresyani tidak terulang kembali kepada anak-anak daerah lainnya yang memiliki mimpi serupa.

Gresyani kini hanya bisa memikul rasa kecewanya sendirian, namun suaranya telah menjadi alarm bagi sistem yang dianggap tidak berpihak pada mereka yang berjuang dengan keringat, bukan dengan koneksi.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *