Amarasi Barat, Kupang – Malam itu, di Desa Soba, jeritan pilu seorang balita menjadi saksi terakhir dari bara konflik rumah tangga yang berkobar tak terkendali. Fera Kristin Junia Bano, bocah mungil berusia 1 tahun 7 bulan, kehilangan masa depan di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Apa yang dimulai sebagai cekcok biasa antara Deningsi Bano Beti (27) dan Kornalius Marion Bano (25), pasangan muda yang hidupnya terperangkap dalam lingkaran konflik, berakhir menjadi tragedi yang memutus napas seorang anak yang bahkan belum mengenal kata “dosa.”
Kisah ini bermula pada 3 Januari 2025, saat Kornalius memilih pergi meninggalkan rumah, menyerah pada perselisihan yang tak berujung dengan istrinya. Selama 11 hari, ia menetap di rumah saudaranya, mencari jeda dari bara konflik yang menyelimuti rumah tangganya. Namun, pada Senin sore, ia kembali—bukan untuk berdamai, melainkan untuk membuka babak baru dari kehancuran.
Pertengkaran yang sudah lama membara langsung meledak. Kata-kata berdesing, amarah meluap, hingga berubah menjadi aksi penuh kekerasan. Dalam puncak kemarahan, Deningsi mengayunkan parang ke arah Kornalius yang tengah menggendong Fera. Di ruang gelap itu, Kornalius berusaha menghindar, namun takdir berkata lain. Sabetan parang itu justru mengenai kaki kecil Fera, menyayat daging dan merobek masa depannya.
Dalam panik, Kornalius merebut parang dan membuangnya, kemudian berlari membawa Fera yang terluka ke Puskesmas Baun. Harapannya sederhana: menyelamatkan nyawa darah dagingnya. Tapi Tuhan punya rencana lain. Meski sempat sadar, pada pukul 04.00 WITA, Fera menyerah, meninggalkan dunia sebelum ia sempat memahami betapa rumitnya kehidupan ini.
Kapolres Kupang, AKBP Anak Agung Gde Anom Wirata, melalui Kasat Reskrim Polres Kupang, AKP Yeni Setiono, mengungkapkan duka mendalam atas insiden ini. “Kami telah mengamankan terduga pelaku dan sedang melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap fakta-fakta di balik tragedi ini,” ujarnya.
Kini, yang tersisa hanyalah kehampaan. Tangisan Fera yang dulu menjadi penghibur di rumah itu kini tak lagi terdengar. Yang ada hanya isak tangis penyesalan, terlambat untuk mengembalikan apa yang telah hilang.
Peristiwa ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa amarah adalah senjata yang paling mematikan. Ia tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga menghancurkan hati, jiwa, bahkan generasi. Di tengah kegelapan malam di Desa Soba, bukan hanya seorang anak yang kehilangan nyawa—tapi juga sebuah keluarga kehilangan harapan.( Arnold)

Tinggalkan Balasan