Kupang – Di tengah realita pahit sektor pertanian NTT yang terseok-seok akibat minimnya dukungan infrastruktur, suara lantang muncul dari Anggota DPRD Provinsi NTT, Stef Come Rihi. Politisi Gerindra dari Komisi 1 ini tidak segan menohok kebijakan pemerintah yang ia nilai terlalu lambat dalam menyelamatkan sektor pertanian.
“Revitalisasi infrastruktur irigasi yang rusak itu bukan sekadar penting, tapi genting! Tanpa air, para petani kita akan mati perlahan. Apa lagi yang mau diharapkan kalau kebutuhan dasar mereka diabaikan?” ujar Stef dalam pernyataannya usai Rapat Paripurna DPRD, Senin (13/01/2025).
Stef tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi. Menurutnya, pemerintah harus segera turun tangan memperbaiki jaringan irigasi yang lumpuh akibat bencana alam. Ia juga mendorong pemanfaatan lahan kering dan sumber air yang ada untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Kita Punya Lahan, Tapi Apa Gunanya Jika Tidak Didukung?”
Stef menegaskan, NTT memiliki potensi besar di sektor pertanian, tetapi potensi ini tidak akan pernah maksimal jika pemerintah terus mengabaikan pembangunan infrastruktur yang menjadi kebutuhan utama. “Kita punya lahan luas, tapi apa gunanya jika tidak didukung irigasi? Berhenti bicara soal program besar kalau langkah kecil seperti ini saja tidak diselesaikan,” katanya dengan nada tajam.
Digitalisasi dan Industri Agraris: Pilihan atau Keharusan?
Tidak berhenti pada infrastruktur, Stef juga menekankan pentingnya inovasi. Ia mendorong digitalisasi UMKM berbasis pertanian untuk memperluas pasar dan memotong mata rantai distribusi yang selama ini merugikan petani.
“Kenapa petani kita terus dimiskinkan? Karena hasil panen mereka dikuasai tengkulak. Saatnya kita bentuk unit khusus untuk mengelola hasil panen dan memasarkan produk mereka langsung ke pasar. Jangan biarkan mereka terus jadi korban sistem yang tidak berpihak!” tegasnya.
“Jangan Tunggu NTT Jadi Kuburan Hidup!”
Dalam pernyataan paling kerasnya, Stef menyindir pemerintah daerah yang terkesan lamban. “Jangan tunggu NTT jadi kuburan hidup bagi para petani baru bertindak. Ketahanan pangan itu bukan cuma urusan perut, tapi soal keberlangsungan hidup daerah ini,” ujarnya.
Pernyataan Stef ini memantik diskusi hangat di berbagai kalangan. Banyak pihak mendukung langkahnya, tetapi tidak sedikit pula yang merasa tertohok dengan kritiknya. Akankah pemerintah bergerak cepat, atau akan terus terperangkap dalam retorika kosong? Satu hal yang pasti, waktu tidak berpihak pada mereka yang lambat.(Arnold)

Tinggalkan Balasan